Sabtu, 16 September 2017

[REVIEW] FILM “Whisper of The Heart” (1995)

“Tentang Cinta, Cita-Cita, Sahabat dan Orangtua yang Berpilin Menjadi Satu”

source : google.com


Beberapa waktu ini saya memang sedang sering menonton film-film produksi studio animasi ternama Jepang, Studio Ghibli. Dan hasilnya, saya selalu terkesima dengan alur cerita yang disuguhkan. Semua film-filmnya seperti memiliki makna yang mendalam, hingga membuat penikmatnya termenung, berpikir, dan seperti melihat refleksi dirinya sendiri. Sejak film pertama yang saya lihat (pada saat itu film The Borrower Arietty), saya jatuh cinta pada bagaimana alur cerita berjalan dan animasinya didesain dengan begitu apik.
Tapi, pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang sebuah film produksi studio Ghibli yang sangat manis menurut saya, “Whisper of The Heart” atau “Bisikan Hati” jika diterjemahkan. Mungkin ini bukanlah film terbaik dari studio animasi ini, bahkan menurut saya sendiri saya akan lebih merekomendasaikan Spirited Away, Princess Mononoke atau Howl’s Moving Castle. Tapi film ini juga tak luput dari rekomendasai saya jika anda menyukai kisah roman yang realistis. Entah bagaimana saya begitu menyukai film ini, setiap penggalan scene dalam film ini membuat saya ingin menulis. Seperti menghidupkan sebagian dari diri saya.
Secara keseluruhan, film ini bergenre Romance. Sebuah kisah cinta sepasang remaja yanga akan menghadapi masa transisi (akhir SMA yang akan memasuki Perguruan Tinggi). Kisah cinta polos yang saling menguatkan satu sama lain. Kalian juga akan menemukan kisah cinta segitiga khas masa SMA, dan kisah cinta yang berhubungan dengan cita-cita dna kehendak orangtua. Sebenarnya, jika dipikir lagi, temanya begitu mainstream dalam kehidupan nyata, namun justru karena itulah menjadi terasa begitu nyata dan dekat bagi penikmatnya.
Tsukishima Shizuku, gadis yang merupakan tokoh utama dalam film ini, merupakan seorang gadis kutubuku yang begitu mencintai buku. Hal ini mungkin tak bisa lepas dari pekerjaan ayahnya yang juga merupakan pustakawan. Suatu hari ia merasa penasaran, karena setiap buku yang ia pinjam dan baca selalu ada nama Amasawa Seiji pada kartu peminjamannya. Singkat cerita, mereka akhirnya dipertemukan oleh sebuha takdir, secara cepat mereka menjadi saling ejek dan kemudian menjadi dekat.
Seiji, seorang anak laki-laki seumuran Shizuku yang memiliki bakat dan minat menjadi pembuat biola. Ia bercita-cita mejadi pengrajin biola dan akan mewujudkan cita-citanya dengan masuk ke sekolah pembuatan biola di Italia, namun sayang kedua orangtuanya keberatan dengan cara itu. Ia menceritakan semua cita-citanya pada Shizuku. Shizuku yang masih terlalu naif akan perasaannya mengatakan bahwa ia senang da mendukung apa diputuskan Seiji. Namun sayang, hatinya tak bisa berbohong. Shizuku juga merasa sedih di saat yang sama katena itu berarti Seiji akanpergi meninggallkannya.
Shizuku yang memiliki pendirian begitu kuat tak mau kalah dan menyerah begitu saja. Ia terus berusaha mencari jalannya, mencari tujuan hidup dan cita-citanya, dan suatu saat Seiji membantunya menemukan jalan.
“Bakatmu adalah menulis!” Itulah yang dikatakan Seiji sebelum ia pergi setelah mengantarkan Shizuku pulang.
Dengan berbekal keyakinan dan kemauan, Shizuku terus berusaha untuk meyakinkan dirinya menemukan jalannya dengan menulis sebuah cerita. Ia menulis kisah tentang Baro, sebuah patung kucing harta milik kakek Seiji yang juga memiliki peran penting dalam film ini. Ia menulis sebuah kisah fantasi yang secara tidak sengaja cocok dengan kehidupan sang kakek. Jika film-film studio Ghibli lainnya bercerita tentang fantasi, maka di film ini akan menceritakan tentang seorang penulis kisah fantasi.
Ceritanya ringan dan tidak berlebihan. Mengalir dan tidak dipaksakan. Sekali lagi ini merupakan kisah roman yang manis dan sekaligus dramatis. Saya beberapa kali dibuat merinding di beberapa bagian dari scene film ini. Terlebih pada scene terakhirnya.


Animasinya bagus sekali, apalagi jika diingat lagi tahun tayangnya pada tahun 1995, setahun sebelum saya lahir. Latar lagunya juga sangat mendukung dan sesuai dengan ceritanya.
Sedikitnya kita akan menemukan dua pelajaran disini. Pertama, kita akan menemukan apa sejatinya jalan kita jika kita mau berusaha dan terus memolesnya. Kedua, cinta sejati selalu sederhana, di dalamnya akan ada kebahagiaan dan kegelisahan yang berbaur dalam satu waktu.

Film animasin ini saya rekomendasikan untuk kalian yang menyukai kisah dengan genre roman, persahabatan ataupun keluarga. Karena ceritanya yang begitu baik, saya rasa film ini aman untuk semua rentang usia. Selamat memasuki dunia penuh perjuangan Shizuku!   

Jumat, 18 Agustus 2017

Rindu Rumah

Apa yang lebih indah jika dibandingkan dengan keluarga?
Yang akan dengan tangan terbuka menerima segala laporanmu tentang kehidupan. Yang padahal kelak akan kau tinggalkan.

Apa yang lebih mendamaikan jika dibanding nasihat dan semangat dari seorang ibu? Yamg bahkan mungkin kau lupakan saat kau sedang bahagia dengan pasanganmu.

Apa yang lebih membuat bangga jika dibanding dengan ayahmu yang memujimu? Yang mungkin bahkan kau sampai rela berbohong demi pujian itu.

Apa yang lebih membuat gemas dibanding kejahilan saudara-saudaramu saat mengusilimu? Sungguh, setelah kau jauh kau akan merindukan itu

Kamis, 23 Maret 2017

Alena (Bagian Tiga)

KISAH ROY

            “Apa yang harus aku lakukan?”. Alena mengucap lirih. Hampir tak terdengar. Raana, Zeo dan Den memandang gadis lima belas tahun itu.
Sejenak lengang. Masih tersisa keraguan dari suara lirih Alena.
“Kami mohon, pergilah dengan kami ke pulau putih.” Zeo dengan terus terang meminta Alena. “Dan dengan Roy” Tambah Raana.
“Bisa kau jelaskan apa hubungan Roy dengan semua ini?” Mata bulat Alena menyelidik Raana dengan penuh penasaran. Namun dengan lembut Raana menggelengkan kepala.
“Kau bisa bertanya dengannya besok, Alena. Sekarang waktumu tidur. Kita harus kembali ke dalam tubuh Den. Tapi sebelum itu, apakah kau bersedia ikut dengan kami, Alena? Demi Den, demi kami, demi tuan-tuan kami, dan demi seluruh pulau putih itu?”
“Sayangnya aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Raana. Kau tahu, ibuku tak akan mengizinkanku.” Alena menunduk.
Percakapan itu berakhir dengan kesenyapan. Raana dan Zeo kembali ke dalam tubuh Den. Dan Den meringkuk di kaki Alena, bersiap untuk tidur. Alena menarik selimutnya, merapatkannya dan berusaha memejamkan mata. Namun hingga pagi menjelang, tak semenitpun ia bisa memejamkan matanya. Sementara Den sudah tertidur pulas dengan manis layaknya kucing biasa.
***

Seperti biasa Roy menunggu Alena di depan rumah gadis itu. Di atas sepedanya ia akan bersiap menyambut Alena dengan senyum ramah dan suara yang ceria, kemudian menawarinya untuk pergi bersama (dan bersiap untuk ditolak tawarannya).
“Hai Alena. Hari ini kau mau berangkat sekolah denganku? Dengan sepeda ini kita akan cepat sampai” Roy dengan nada riang menyapa gadis yang baru saja keluar dari pagar rumahnya.
Alena terdiam sejenak. Berpikir. “Mungkin kali ini aku akan ikut denganmu, Roy. Semoga kamu tidak keberatan saat memboncengku”.
Wajah Roy kaget. Ia tak terbiasa mendapat penerimaan tawaran dari Alena.
“Tentu tidak. Aku yang setiap hari menawarimu. Aku akan senang kalau kau mau berangkat bersama denganku.”
Alena duduk di jok belakang. Berboncengan dengan Roy. Di sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Alena masih berpikir bagaimana bertanya pada Roy tentang ‘kesedihan yang sama’ seperti yang dikatakan Zeo dan Raana.
Udara sepagi itu masih sangat dingin. Alena merapatkan jaketnya.
“Bagaimana kau bisa sekuat itu, Lena?” Roy mulai membuka pembicaraan.
“Eh, apanya?”
“Aku hanya heran, kenapa kau bisa punya kekebalan tubuh sekuat itu. Udara seperti ini sangat dingin. Aku saja yang biasanya mengebut dengan sepeda agar tak terlalu lama di luar ruangan terkadang masih tak kuat dengan suhu di kota ini. Tapi kau yang seorang perempuan bisa dengan santai setiap hari berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan sebaliknya” Terang Roy membuka percakapan.
“Kau berlebihan, Roy, bukankah kita sudah di kota ini sejak kecil? Kota ini menyayangi kita, suhunya tidak akan membunuhmu meski kau kedinginan.” Alena tersenyum mendengar ucapannya sendiri.
Gedung sekolah mereka hampir terlihat. Hanya menuruni bukit dan mereka akan disambut dengan pemandangan anak-anak yang berkejaran dengan tas sekolah mereka masing-masing.
“Bagaimana kabar Den?” Roy sambil sedikit mengerem sepedanya agar laju sepedanya tak terlalu kencang karena menuruni bukit “Apa dia makan ikan yang kemarin ku berikan padanya?”.
Alena tertegun. Mungkin ini kesempatannya untuk bertanya tentang ‘kesedihan yang sama’. Tapi ia urung menanyakannya. Takut Roy terganggu.
“Baik. Ia amat menyenangkan. Kau bisa mengunjunginya jika kau mau.”
“Syukurlah jika demikian, aku belum punya kesempatan untuk bicara pada ibuku boleh atau tidak merawat Den. Mungkin nanti sepulang sekolah aku akan menanyakannya. Tidak enak juga terus menitipkan Den padamu.”
“Ah, tidak. Sama sekali bukan masalah, Roy” Lena dengan cepat menyangkal.
Roy tersenyum. Sepedanya sekarang sudah mulai memasuki area sekolah. Alena turun di depan gerbang. Mengucapkan terimakasih pada Roy.
“Aku tidak akan keberatan jika kau mau menumpang di sepedaku lagi nanti pulang. Tentu jika kau tidak keberatan.” Roy sambil menuntun sepedanya memasuki halaman sekolah tersenyum pada Alena.
Yang ditanyai hanya diam. Memandang Roy dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Apa yang kau ketahui tentang Den, Roy?” suara Alena lirih kalah dengan suaran anak-anak lain yang bergegas masuk ke kelasnya masing-masing. Namun, Roy mendengarnya.
Roy mematung. Menatap gadis di hadapannya dengan tenang. Tangannya masih memegang stang sepedanya.
“Akan kuceritakan nanti. Semoga harimu menyenangkan.” Roy berbalik arah. Menuntun sepedanya masuk ke area parkir. Begitupun dengan Alena. Ia berbalik badan dan membaur dengan siswa lain. Masuk ke dalam kelasnya.
***
“Apa Raana dan Zeo sudah menemuimu?” Roy langsung bertanya setelah beberapa saat lalu mereka keluar dari area sekolah. Alena di jok belakang mengangguk, kemudian menjawab pelan, ya.
“Ada begitu banyak hal tak terduga di dunia ini. bukan begitu, Lena?”
Sekali lagi, gadis itu mengiyakan.
“Mau mendengar cerita kecil? Tentang seorang pangeran kecil yang bahagia?” suaranya Roy terdengar lebih berat dari biasanya.
“Jika kau tak keberatan, Roy.”
“Aku tak keberatan Alena. Asal kau mau mendengarkannya.”
Roy memulai ceritanya.
“Di sebuah kota dengan penduduk yang bahagia. Sebuah keluarga kecil yang tinggal di ladang menjalani hidupnya layaknya penduduk biasa. Mereka tinggal di pinggiran kota, sehingga hiruk pikuk perkotaan tak terlalu terasa bagi mereka. Sang ayah setiap hari bergi berladang dengan penuh semangat. Pergi di saat matahari terbit dan pulang saat matahari beranjak tenggelam, kadang lebih cepat dan kadang lebih lama. Sang ibu dengan tangannya yang cekatan melakukan berbagai kegiatan rumah dengan senang dan tulus. Dan si anak bermain dan belajar dengan riang, si anak bahagia sekali dengan keluarganya.
Untuk beberapa tahun semuanya terasa sempurna. Sang anak menyukai kegiatannya ikut berladang dengan ayahnya. Sering membantu ibunya mengangkati barang di rumah. Melakukan banyak hal yang sama namun tak pernah membuatnya bosan. Lalu dalam sejenak pula keadaan segera berganti. Saat umur enam tahun mereka mau tidak mau harus pergi dari kota mereka. Rumah keluarga kecil itu terbakar. Entah apa penyebabnya. Apa yang mereka miliki sudah kandas. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Dan memutuskan untuk pindah ke kota lain. Mengubur semua kenangan di kota itu.
Dan bulan berganti tahun. Saat sang anak berusia usia sepuluh tahun sang ayah memutuskan untuk kembali mengunjungi kota lama mereka sendiri. Merasa masih penasaran dengan apa yang menyebabkan istana kecil mereka terbakar habis. Dan pergilah sang ayah, meninggalkan istri dan anaknya.” Suara Roy tercekat di sana.
“Roy, kau baik-baik saja?” Alena menangkap kesedihan dari kisah anak laki-laki di depannya.
“Aku baik saja Alena, aku sudah berjanji pada Zeo dan Raana untuk menceritakan kisah ini padamu.” Roy berhenti sejenak. Memelankan kayuhan sepedanya. “Baik, kisah akan berlanjut”
“Dan itu merupakan perjalan terakhir bagi ayah anak laki-laki itu. Sebuah tabir tersingkap. Rumah keluarga kecil itu ternyata sengaja dibakar oleh seorang petani yang iri dengan keluarga itu. Entah apa yang membuat iri, hingga saat ini sang istri dan sang anak tidak atahu penyebabnya. Bukan hanya itu, kedatangan kembali sang ayah di kota lama mereka membuat si petani yang iri hati naik pitam. Ia seperti kesurupan menggila mengejar sang ayah di perjalan pulang. Hingga kendaraan yang digunakan sang ayah terperosok ke dalam jurang. Tidak banyak yang tahu kejadian itu. Hanya beberapa orang, yang kemudian melaporkan si petani iri hati kepada pimpinan mereka. Dan kini entah bagaimana kabarnya. Si anak dan sang Ibu tidak pernah mengetahuinya.” Roy diam sejenak, “Setidaknya sampai di sanalah ceritanya” Roy tersenyum memutuskan mengakhiri kisahnya.
Untuk beberapa detik mereka saling diam.
“Dimana letak bahagianya, Roy?” Alena dengan suara lirih bertanya dengan ragu.
“Kau tahu, Lena? Letak bahagianya adalah saat mengenangnya. Saat mengenang masa bahagia, itulah saat bahagianya. Seperti yang kau keketahui, akulah si anak dalam cerita itu, dan akulah si pangeran bahagianya. Aku bahagia karena ayahku adalah seorang yang sangat menyayangi keluarganya. Aku bangga meski ayahku belum pernah mendengarnya dari mulutku sendiri. Aku bahagia karena ayah masih menitipkan ibu padaku, hingga membuatku mencurahkan segala perhatianku pada ibu. Akulah sang Pangeran yang Bahagia. Bahagia dengan mengenang kebahagiaan, yang akhirnya bisa memandang hidup dengan penuh keluasan. Dan kau tahu apa lagi yang membuatku bertahan hingga sekarang?”
Alena menggeleng.
“Karena aku bertemu denganmu. Gadis kecil yang lebih dulu kehilangan. Gadis yang begitu kuat menghadapi beratnya hidup. Bagaimana kau bisa bertahan dari udara yang dingin ini, Alena? Bagaimana kau bisa bertahan dengan segala yang tersisa untukmu? Aku tahu kau begitu menyayangi ibumu. Dan sebab itu pula aku menirumu. Aku akan menyayangi apa yang tersisa untukku.”
“Apa itu sebuah bentuk kasihan, Roy?”
“Tentu tidak” Roy menjawab singkat.
“Kau tahu, aku tidak sekuat itu. Aku bahkan tak bisa menikmati hidup seperti halnya dirimu. Aku justru takut mengenang, sedangkan kau bahagia dengan mengenang.” Suara Alena tercekat. Sepeda yang mereka tumpangi melaju pelan.
“Yang menilai diri kita adalah orang lain, dan yang tahu sejatinya diri kita adalah diri kita sendiri. Tak masalah seperti apa dirimu, karena aku orang lain bagimu, bagiku kau adalah gadis yang kuat.”

Sepeda mereka tumpangi melaju semakin cepat. Angin sore menggoyangkan daun-daun pohon dan merontokkan sebagiannya. Alena merapatkan jaketnya. Hatinya terasa hangat.

Minggu, 05 Maret 2017

Alena (Bagian Dua)

SEBUAH KISAH

“Kau senang dengan kucing ini?” laki-laki yang dipanggil Zeo itu memulai percakapan.
Lena perlahan mengangguk.
“Kucing yang indah, bukan?” Raana tersenyum. Mengelus Den yang diam memandang kami bercakap.
“Kau tahu, Lena, kucing ini bukan kucing biasa.” Zeo mulai menejelaskan. “Den adalah kucing dari Pulau yang dikutuk, pulau yang harus kau selamatkan, Pulau Putih.”
Lena tak mengerti. Gadis itu perlu mencerna kalima anak laki-laki di depannya. Ia hanya menggelengkan kepala tak percaya.
“Pulau putih? Apalagi itu? Pertama seekor kucing yang dari matanya mengeluarkan cahaya, lalu muncul kalian, dan sekarang? Pulau putih?”
“Biar aku yang menjelaskan. Ini bukanlah kisah indah seperti dongeng yang selama ini sering kau dengar. Kisah ini tentang keluargaku, kehidupan Den, dan pulau putih.” Raana memilih untuk berbicara.
Lengang sejenak. Lena mengatur napasnya.
“Baik. Aku akan mendengarkannya.”
Bola mata Zeo yang kecoklatan menatap Raana, ikut menyimak apa yang akan diceriatakan kakaknya.
“Tapi sebelumnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau percaya kucing memiliki sembilan nyawa?” Raana memulai penjelasannya dengan pertanyaan.
Lena menggeleng. “Itu hanya mitos”
“Jika begitu kau akan sulit mempercayai cerita ini. Kami kemari adalah memintamu untuk ikut bersama kami. Bersama dengan Roy. Kalian berdua memiliki kunci untuk membuka tiga kotak ‘Kunci Warna’”
Lena memotong penjelasan Raana, “Roy? Dari sekian banyak anak di dunia ini, kenapa harus kami berdua?”
“Maka dengarkan cerita kami Lena. Aku mohon, dengarkan kami. Sebelum putih menjadi hitam. Dan hitam lenyap dimakan malam” Zeo yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut bicara.
Demi melihat mata Zeo yang penuh pengharapan, Lena diam dan kembali tenang.
***
Kisah ini berawal dari sebuah pulau yang tak terpetakan sama sekali hingga kini. Keberadaannya sama sekali tak diduga manusia. Sebuah pulau kecil yang dengan indahnya masih menyimpan banyak sekali makhluk tak terduga. Pasirnya putih, udaranya hangat, pohon dengan daun hijau menghasilkan ranum buah-buahan. Saat waktu tertentu akan tercium bau wangi bunga kopi yang semerbak bersama. Pulau itu pulau yang suci, tak tersentuh manusia sebelumnya. Hingga tak ada yang tahu cerita tentang siapa yang menguasai pulau itu.
Tersebutlah namanya Ratu Nes. Penjelmaan dari pulau itu sendiri. Yang menjaga pulau itu agar tak pernah terpetakan oleh pelaut-pelaut yang melewatinya dan benda-benda buatan manusia lain yang terbang di atasnya. Lalu Raja Ruj yang dengan setia mengisi bawah tanah dan permukaan tanah pulau itu dengan air segar dan tawar. Suatu ketika mereka dianugerahi tiga putra-putri dari Sang Pencipta. Mereka adalah Pangeran Tah—pangeran tertua—yang  menjaga kehangatan dan kenyamanan udara pulau itu, Pangeran Meta yang menjaga kesuburan dan menjaga isi dari pulau itu, dan Putri Ein—si Putri Bungsu—yang menjaga aroma dari pulau itu.
Masing-masing putra-putri itu memiliki hewan peliharaan. Pangeran Tah yang lembut, peduli dan menyukai kebebasan begitu menyayangi Denus, seekor burung nuri yang dengan keistimewaan paruh berwarna emas yang memantulkan cahaya indah saat terkena sinar matahari. Pangeran Meta yang tegas, adil dan kuat memiliki seekor macan tutul yang aumannya mampu memanggil seluruh penduduk pulau bernama Gord. Dan Putri Ein yang selain cantik ia juga cerdas, lemah lembut dan penuh perhitungan memiliki seekor kucing jantan tiga warna yang merupakan teman baik Gord si macan tutul, Nico, yang dibandingkan dengan hewan kesayangan kakak-kakaknya kucing ini tak memiliki sesuatu yang spesial.
Tiga bersaudara itu selalu menghuni pulau itu. Tidur sambil menatap bintang dan makan buah-buahan bersama hewan-hewan di pulau itu. Mereka sering berpesta dengan makhluk penghuni pulau, Putri Ein akan selalu menyiapkan bunga-bunga yang berwarna-warni dan semerbak, Pengeran Meta menghidangkan makanan dari hasil tanah pulau, dan Pengeran Tah akan membuat cuaca selalu cerah dan menyenangkan selama pesta berlangsung. Tapi pesta-pesta itu tak pernah dihadiri sang Raja dan Ratu—meskipun Raja dan Ratu ada di pulau itu.
Meskipun Raja dan Ratu mereka juga di pulau itu, mereka belum pernah bisa bertemu langsung. Ratu Nes dan Raja Ruj mengawasi anak-anak mereka dengan tak menampakkan diri. Hingga pada suatu malam mendung mereka untuk pertama kalinya menemui anak-anaknya yang sudah hampir beranjak dewasa.
Raja Ruj menggendong seorang pemuda dengan pakaian yang basah dan robek. Tubuhnya banyak tergores karang. Wajahnya pucat pasi. Di samping Raja Ruj seorang wanita yang berwibawa berjalan dengan anggun. Ialah Ratu Nes. Ketiga anaknya memberi hormat kepada kedua orang tuanya, begitupun dengan hewan-hewan yang ada di sekitar mereka.
“Selama ini aku tak pernah menampakkan diri pada kalian semua, tapi kali ini adalah pengecualian. Aku ingin kalian semua yang ada di pulau ini merawat pemuda ini. Pemuda ini terdampar di sisi selatan pulau. Ia masih hidup meski napasnya mulai melemah.” Sang Ratu dengan suara lantang memberitahukan maksudnya memunculkan diri.
“Khususnya kau, Ein, kami berharap banyak padamu.” Raja menambahkan sambil menatap putrinya.
“Siapa dia sebenarnya, ayah?”  Pangeran Tah mengajukan pertanyaan pertama.
“Mungkin ia adalah seorang nelayan dari pulau berpenduduk terdekat. Sepertinya kapalnya hancur saat badai kemarin malam. Dan ombak membawanya hingga terdampar di sini.” Ratu Nes menjawab.
“Lalu mengapa hanya Ein yang ayah berikan harapan lebih banyak?” Pangeran Meta bertanya dengan wajah penasaran.
Ein hanya diam tak mengerti.
“Karena kami berharap ia akan menjadi suami Ein suatu saat, yang akan ikut mejaga pulau ini kelak. Dan tolong jaga rahasia tentang siapa kalian dari pemuda ini” Sang Ratu kembali menjawab.
Suasana sejenak menjadi hening. Dan malam itu berlalu.
Singkat cerita semenjak  hari itu nelayan muda itu tinggal di pulau itu. Nama nelayan itu Tony. Tony itu jatuh cinta dengan Putri Ein dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua akhirnya menikah dan membangun sebuah pondok kecil di pulau itu tempat mereka bedua tinggal. Tony tak pernah tahu bahwa Putri Ein adalah putri dari penjaga pulau itu. Baginya, istrinya dan saudara istrinya adalah manusia biasa yang hidup di pulau itu.
Mereka bedua hidup bahagia. Setiap harinya Tony pergi berladang dengan Pangeran Meta, mencari ikan dengan Pangeran Tah. Kedua pangeran itu bersandiwara dengan baik di depan adik iparnya. Tony juga sama sekali tak keberatan jika kakak iparnya, Tah, selalu didampingi seekor burung nuri dengan paruh emas, maupun kakak ipar lainnya, Meta, berladang ditunggui macan tutul yang dianggapnya sudah jinak.
Namun setelah sekian lama Tony merasa banyak hal janggal di pulau tempat ia tinggal. Ia tak pernah melihat kapal nelayan maupun kapal-kapal besar lainnya lewat atau paling tidak terlihat di cakrawala. Kemudian ia tak pernah bertemu dengan orang tua istrinya. Dan kucing istrinya, Nico yang seakan tak pernah tumbuh, sejak ia bertemu dengan kucing itu, sudah bertahun lamanya, namun Nico tak pernah tumbuh, ia tetap menjadi kucing jantan kecil yang memiliki tiga warna—kucing langka. Selain itu, Tony juga merasa gusar karena ia tak segera memiliki seorang anak, meskipun istri dan kakak-kakak iparnya tak pernah mempermasalahkannya.
Tony seorang yang pendiam. Ia tak pernah bertanya hal-hal yang mengganggunya pada istri dan kakak iparnya. Namun suatu siang di ladang, ia memberanikan diri untuk bertanya pada Pangeran Meta.
“Meta, apa kau pernah melihat kapal di sekitar sini?” Tanya Tony saat mereka berdua sedang istirahat duduk di bawah pohon besar yang rindang.
Meta yang sedang mengelus surai macannya tertegun. Diam mencari jawaban.
“Tidak. Aku belum pernah melihat kapal atau apapun berlayar ke sini kecuali kau yang terdampar. Ah, iya dan kapal kecilmu yang biasa kau dan Kakak  gunakan untuk mencari ikan” Meta menggelengkan kepalanya.
“Bukankah ini aneh? Aku tak terlalu ingat berapa lama aku terbawa ombak dan berpegangan pada kayu perahu seperti yang pernah kalian ceritakan padaku. Bukankah seharusnya di sekitar sini ada pulau berpenduduk lain?” Tony masih mendesak.
“Sebaiknya lakukan saja pekerjaanmu, Tony. Ein tak akan suka jika kau bertanya tentang itu.” Pangeran Meta berkata lebih tegas. Kemudian beranjak dan meninggalkan Tony sendiri.
Di sisi lain Pangeran Meta segera menghampiri Pangeran Tah. Ia menceritakan apa yang ditanyakan Tony.
“Apa kau berpikir  bahwa Tony akan meninggalkan pulau ini jika ia tahu sebenarnya, Meta?” Pangeran Tah bertanya pada adiknya.
Pangeran Meta mengangguk.
“Aku tak berpikir demikian. Ada Ein di sini. Dan Tony tidak akan meninggalkan Ein.”
“Tidak ada yang tidak mungkin, Kakak. Tony adalah manusia. Sedangkan kita? Kita tidak tahu apakah kita benar-benar manusia atau tidak.”
“Jika demikian, cegah Ein untuk mengatakan apapun tentang sebenarnya. Bagaiamanapun juga ayah dan ibu telah memerintah kita untuk menjaga dan membuat Tony tetap di pulau ini.”
Sayangnya saat itu juga Tony mendengar semua percakapan kedua kakak iparnya. Ia ketakutan, hingga tak tahu harus bertindak seperti apa. Ia segera pulang, menemui istrinya yang sedang duduk di teras pondok kecil mereka.
“Apakah kau bukan manusia? Siapa kau sebenarnya?!” Tony langsung menghajar istrinya dengan perntanyaan penuh amarah dan kepanikan.
Sementara yang diatanyai hanya diam dan mematung. Kemudian berdiri dan mecoba memeluk suaminya agar tenang. Namun belum sampai tangan istrinya menyentuh pundak Tony, tangan itu ditepis. Tony berlari menuju pantai. Mengambil perahu yang biasa ia gunakan dengan Pangeran Tah untuk mencari ikan di sekitar pantai. Ia terus mendayung dan mendayung. Sementara istrinya hanya kaku sampai menangis pun tak mampu.
Dan demikianlah, Tony tak pernah kembali. Malam harinya saat Putri Ein masih menatap laut berharap suaminya kembali, angin kencang dan hujan lebat memenuhi pulau. Badai akan terjadi di tengah laut. Petir akan menyambar dengan diiringi ombak tinggi yang siap menelan kapal. Dan Tony? Entah bagaimana. Putri Ein hanya diam dan tak mampu beranjak lagi dari bibir pantai. Tidak ada lagi aroma wangi bunga kopi dan rumpun mawar liar. Tidak ada lagi aroma khas hutan yang menenangkan. Yang ada hanya aroma hujan yang menyerbu tanah di pulau itu. Atau jika panas hanya ada aroma angin asin yang panas dan disertai amis ikan mati yang beberapa terdampar di laut.
Parahnya bukan hanya itu. Tidak ada lagi udara hangat. Pangeran Tah menyerah tak bisa menghibur adik perempuannya. Ia membiarkan udara sama seperti pulau lainnya, panas yang sangat panas, dan dingin yang menusuk saat malam. Dan Pangeran Meta hanya menunggu waktu. Tumbuhan tak terurus. Hewan menjadi mengerikan.
Ratu Nes dan Raja Ruj mengetahui hal ini. Dan untuk kedua kalinya  mereka menampakkan dirinya di depan anak-anaknya.
“Biarlah, Nak. Biarlah suamimu pergi. Kau harus terus menebar wangi untuk pulau ini.” Sang Ratu mendekap anak perempuannya.
Namun Putri Ein tak bergeming.
Raja dan Ratu terus membujuk anak-anaknya, namun tak ada yang mau mendengar mereka berdua.
“Mengapa ibu tak menghalangi Tony saat ia pergi? Bukankah ibu tahu semua ini?” Akhirnya Pangeran Tah bertanya.
“Kehendak hati manusia adalah milik manusia itu sendiri, Tah. Dan yang menentukan adalah Yang Menciptakan. Ibu tidak akan bisa mencegah apa yang ia inginkan kecuali ia sendiri yang ingin kembali.”
“Maka mengapa ayah dan ibu menyelamatkannya dulu?”
“Karena Tony adalah manusia dengan hati yang terluka. Ia pergi berlayar sendiri untuk menenangkan hatinya, dan ia terjebak dalam badai sendirian. Hingga kapalnya rusak dan ia terdampar.”
“Lalu mengapa ayah tidak menjelaskannya dari dulu? Lihatlah, Ein sekarang bahkan tak bisa mengalihkan pandangan dari lautan. Bukan hanya Tony yang hatinya luka karena entah mengapa, tapi sekarang Ein juga, dan sayangnya luka Ein adalah luka kakak-kakaknya!” Pangeran Meta menggebu menyalahkan ayahnya.
Untuk sejenak, hanya suara isak tangis yang terdengar.
“Jika demikian maka biarlah ayah dan ibu yang mencari Tony. Setidaknya agar ada kabar kehidupan atau kematian Tony” Sang Ratu berdiri. Menatap dan menantang lautan luas. Raja dan Ratu pergi menuju laut. Tenggelam dalam ombak.
Dan mulai saat itu Pangeran Tah dan Pangeran Meta memimpin pulau itu. Namun tak lama kemudian malapetaka besar siap merubah pulau mereka. Di belahan bumi yang jauh, seorang penguasa pulau gaib bernama Gendes siap untuk melenyapkan pulau yang telah lama membuatnya iri. Kabar menghilangnya Raja dan Ratu, serta patah hatinya sang Putri sudah sampai padanya. Dan tinggal hitungan hari Gendes datang mengutuk pulau itu.
Akhirnya hari itupun tiba. Gendes menuju pulau itu. Mengutuk ketiga putra-putri Raja dan Ratu pulau itu. Memasukkan jiwa mereka dalam tiga batu warna utama. Dan menyimpan mereka bertiga dalam tiga kotak berbeda. Putri Ein dikurung dalam warna merah,  Pangeran Tah dikurung dalam warna Biru, dan Pangeran Meta dikurung dalam warna hijau. Seluruh pulau ditutupi salju. Putih tanpa ada cela. Kekuatan ketiga anak Raja dan Ratu yang melindungi pulau itu tertutup salju tebal. Hingga pulau itu berwarna putih, menutup segalanya. Hewan yang bisa terbang pergi berpidah tempat. Sementara hewan yang hidup di darat membeku. Dan dalam sekejap pulau itu seperti kota mati.
Namun di sisi lain keajaiban terjadi. Nico, kucing Putri Ein, menukarkan dua dari sembilan nyawanya untuk menolong hewan kesayangan saudara majikannya. Gord si Macan Tutul dan Denus si Burung Nuri. Dan secara ajaib juga Gord berubah menjadi manusia, begitupun dengan Denus. Gord menjadi seorang remaja laki-laki tampan dengan suara lantang, sorot matanya tajam menatap lawan bicaranya. Sementara Denus berubah menjadi seorang perempuan cantik, pakaiannya indah berwarna-warni dan ia memegang sebuah tongkat dengan bagian atas berwarna emas. Sementara Nico tak berubah. Ia tetap menjadi kucing kecil.
“Hei, aku tak pernah tahu kalau kau seorang perempuan, Denus” Anak laki-laki itu tersenyum senang dengan wujudnya yang sekarang.
“Bukan urusanmu, Gord, lagi pula kita dalam masalah besar. Tuan kita terperangkap dalam batu dan dimasukkan dalam kotak warna. Bagaimana cara membebaskan mereka?”
“Entahlah.”
Selama bertahun mereka tak memiliki satupun ide untuk membebaskan tuan mereka. Hingga suatu hari Raja dan Ratu kembali. Raja dan Ratu kaget dengan apa yang terjadi pada pulau mereka. Mereka bertemu dengan Gord, Denus dan Nico. Dan saling menjelaskan keadaan.
Tony telah meninggal saat berlayar. Ia sempat selamat dan bermukim selama beberapa minggu tinggal di kampung nelayan pulau seberang. Karena kegundahan  hatinya, Tony memutuskan kembali berlayar, ia berniat kembali ke pulau ini. Namun naas, saat malam itu juga badai luar biasa dasyat menghadangnya. Ia kembali terombang ambing namun untuk saat ini ia sudah tak memiliki napas. Ia ditemukan nelayan dari sebuah pulau, dan dikuburkan dengan layak di sana.
Kemudian Gord dan Denus menjelaskan situasinya saat ini. Raja dan Ratu sangat terpukul, hingga mereka memutuskan untuk membalas perlakuan Gendes. Sebelum mereka berdua pergi, mereka memberikan nama kepada Gord dan Denus sebagai manusia. Gord diberikan nama Zeo, dan Denus diberikan nama Raana. Raja dan Ratu memberitahu bagaimana mereka bertiga bisa membebaskan ketiga anaknya. Dan sejak itulah, Zeo, Raana dan Nico pergi meninggalkan pulau itu. Membawa perahu kayu kecil yang mereka buat dengan sederhana. Menutupi pulau mereka dengan kekuatan yang mereka miliki. Berpindah dari satu pulau ke pulau lain, dari satu daratan menuju daratan lain. Bersembunyi dalam tubuh Nico.
***
“Dan untuk sementara kisah itu berakhir di sana. Kami sangat berharap padamu, Alena.” Raana menutup kisahnya.
Alena diam dan dengan ragu bertanya “Mengapa harus aku dan Roy?”
“Karena kau dan Roy sama” Zeo kali ini yang menjawab.
“Apa? Aku dan Roy sama sekali berbeda. Dia merupakan anak yang baik dan selalu ceria. Berkebalikan sekali denganku!”
“Itulah dirimu Lena. Kau bahkan tak pernah tahu bahwa sebenarnya Roy telah kehilangan ayahnya. Kau terlalu menutup dirimu, hingga kau tak tahu seperti apa kehidupan Roy.” Zeo menjelaskan sekali lagi.
Wajah Alena pias. Ia sama sekali tak tahu akan hal itu. Ia kembali diam dan berpikir.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Sabtu, 25 Februari 2017

Alena (Bagian Satu)

Alena
Namanya Alena. Keluarganya, teman-temannya dan orang yang baru dikenalnya banyak memanggilnya Lena. Seorang gadis kecil dengan rambut yang dikepang dua. Usianya 12 tahun, masa di mana biasanya anak seumurannya bahagia bermain dengan teman sebaya dan dimanjakan orang tuanya. Tapi tidak bagi Lena.
Lena seorang anak yatim. Ibunya mengasuhnya sendiri dengan segala yang ia bisa. Ayah Lena meninggal saat perjalanan pulang dari berdagang di luar kota saat gadis kecil itu berusia 8 tahun. Dan sejak hari itulah, kehidupan Lena berubah.
Lena seorang anak yang manis. Kulitnya yang putih dan lesung pipi yang menawan membuat orang melihatnya merasa senang. Belum lagi matanya yang biru dan rambutnya kecoklatan tanpa memerluakn semir. Jika bisa digambarkan, mungkin ia seperti putri kecil dari negeri dongeng yang kerap diceritakan oleh banyak orang tua sebelum anak mereka tidur. Namun ada satu hal yang jarang terlihat pada diri Lena. Ia jarang tersenyum.
Lena menjadi gadis yang pendiam semenjak ayahnya meninggal. Kenangan masa kecil yang bahagia seperti hantu yang terus menakutinya setiap malam. Semuda itu ia paham bahwa ‘yang pergi tak akan pernah kembali’. Tak jarang air matanya mengalir dengan sendirinya saat lampu kamarnya sudah lama dimatikan oleh ibunya. Matanya mengerjap di tengah gelap, menikmati kenangan indah yang terus ‘menghantuinya’. Ibunya tak pernah tahu, hanya Lena dan Tuhan yang tahu bahwa ia menangis. Ia tak pernah mau bercerita kepada ibunya bahwa ia sendang bersedih—karena ia tahu bahwa ibunya lebih bersedih lagi. Ia hanya berharap, suatu saat akan ada orang lain yang bisa tahu tentang keluh di hatinya. Yang bukan ibunya, ia takut memberi beban yang lebih besar lagi pada ibunya.
Suatu sore di musim penghujan.
Lena duduk di beranda rumahnya. Segelas teh hangat mangepulkan asap tipis di atasnya. Ia menungu ibunya yang masih di dalam rumah—beberapa menit lalu ibunya memintanya menunggu. Matanya menatap gerimis yang semakin sering. Seperti tirai tiada berkesudahan. Begitu banyak, rapat, berisik namun tetap indah. Lena selalu menyukai hujan. Tempias airnya, suara berisiknya, bau tanah basah hingga udara dingin yang siap menembus kulitnya.
Beberapa menit kemudian ibunya keluar dari rumah sambil membawa sepiring kue kering dan kemudian duduk di samping putri semata wayangnya. Untuk beberapa menit suasana malah menjadi canggung. Yan terdengar hanya tetesan air hujan yang semakin berisik menyerang tanah.
“Bagaimana sekolahmu, Lena?”
Ibunya memulai pembicaraan.
“Baik, seperti biasa selalu baik” Lena berusaha menanggapi dengan senyum—meski dipaksakan.
“Tadi ibu bertemu dengan Nyonya Farah. Dia mencemaskanmu.” Ibunya tahu anaknya berbohong. “Kenapa kamu jadi pendiam, Nak?”.
Suasana kembali canggung. Tanpa basa basi ibunya langsung pada inti permasalahan. Udara seperti tak dingin lagi bagi Lena.
“Aku rindu ayah.” Itulah yang terucap dari mulut Lena.
Ibunya yang memandang wajah Lena terperanjat. Kelu lidahnya.
“Entah mengapa berbulan-bulan ini aku selalu mengingat ayah. Suaranya, wajahnya, senyumnya, marahnya, dan bagaimana ayah menggendongku. Aku ingin agar setiap ingatanku tentang ayah segera pergi, seperti ayah yang pergi terlalu cepat.” Hatinya buncah, semua yang ada di pikirannya ingin segera ia luapkan, namun kalimat-kalimat yang ia ucapkan seperti tak pernah cukup untuk mengungkapkan apa yang ada dipikian dan hatinya.
Ibunya di sampingnya hanya diam. Matanya nanar melihat putrinya yang ingin menangis namun sekuat mungkin ia tahan. Matanya tak pernah tertuju pada ibunya. Hanya melihat ke arah hujan yang semakin lebat.
“Bukan kau satu-satunya yang merindukan ayahmu, Nak, ibu juga merindukan ayahmu.” Hanya itu yang sanggup ibunya katakan.
“Lena tak pernah ingin mengatakan ini pada ibu, karena Lena yakin ibu pasti lebih sedih dibandingkan siapapun atas meninggalnya ayah.” Lena tampak menyesal, ia akhirnya memandang lurus ke arah ibunya.
“Itukah yang selama ini membuatmu menjadi pendiam, Nak?”
Lena mengangguk. Matanya masih berair.
“Bisakah kau kembali tersenyum seperti biasa, Nak? Untuk ibu?”
Lena tak menjawab. Matanya kembali menatap hujan. Dengan demikian percakapan mereka usai di sana. Ibu dan anak itu tak berbicara lagi, kalut dalam pikiran masing-masing. Hingga paginya mereka baru bercakap kembali. Itupun karena Lena harus berpamitan dengan ibunya sebelum berangkat sekolah, dan ibunya seperti biasa menyerahkan bekal makan siang untuk putrinya.
Lena berangkat dengan hati seperti biasanya—kosong. Ia terbiasa dengan hal itu. Gadis dengan rambut dikepang dua itu terus berjalan. Menyusuri jalan tanpa ragu. Pergi ke sekolah untuk bertemu teman dan gurunya. Belajar bersama semuanya. Dan pulang seperti biasanya.
Di perjalanan pulang ia disapa oleh Roy, teman sekelas sekaligus tetangganya. Roy yang menggunakan sepeda menawarinya untuk pulang bersama, sebelum hujan kembali turun katanya. Namun dengan senyum tipis Lena menolak. Bilang ia lebih suka berjalan kaki. Roy tak menyerah, menawarkan diri untuk menemani Lena berjalan kaki. Dan sekali lagi Lena menolak, ia lebih suka berjalan sendiri. Roy menyerah, ia tersenyum dan berpamitan untuk pulang duluan. “Mungkin besok aku bisa pulang dengannya” pikir Roy yang perlahan mengayuh sepedanya meninggalkan Lena. Sementara Lena berpikiran lain, “Dan jika ia mengajakku pulang bersama lagi, aku akan menolaknya lagi.”
Seperti itulah, bukan dibuat-buat. Lena memanglah gadis yang dingin. Menikmati kesendirian. Berbeda dengan Lena saat berumur 7 tahun yang senang bermain dengan teman-temannya.
Hingga tahun pun berganti. Usia Lena saat ini 15 tahun. Sikap Lena tak banyak berubah. Terkadang ibunya merasa resah, namun Lena adalah gadis yang keras kepala, ia tetap melanjutkan hidupnya sebagaimana ia ingin menjalani hidup.
“Lena, kali ini kau mau bareng denganku?”
Seorang anak laki-laki seumuran dengannya dengan menggunakan sepeda menunggunya di depan rumah
“Tidak, Roy, kau pergi dulu saja, aku akan berjalan kaki seperti biasa.”
“Baiklah, bilang saja jika suatu saat kau membutuhkan tumpangan”
Lena hanya tersenyum, mengantar anak laki-laki yang tak perah menyerah menawarinya tumpangan setiap pagi.
“Bukankah akan lebih baik jika kau berangkat dengan Roy, Lena?” Ibunya yang seperti biasa menyerahkan bekal untuk putrinya tersenyum saat bertanya demikian.
“Roy akan kesusahan memboncengku, Bu, aku tidak ingin merepotkan orang lain.” Lena menjawab dan berpamitan dengan ibunya.
Apakah Lena berubah? Tidak. Hatinya masih kosong, hanya saja kenangan indah dengan ayahnya kini tak sesering dulu menghantuinya. Meski bertahun ia masih senang memendam perasaannya sendiri. Sendiri tanpa orang lain yang tahu—meski sebenarnya ibunya tahu betul apa yang dirasakan putrinya.
***
            Lena tumbuh menjadi remaja yang amat cantik. Seluruh teman di sekolahnya senang melihat parasnya. Banyak teman laki-laki mendekatinya, namun tak ada berhasil—kecuali Roy yang terus ada di sekitar Lena meski lebih sering diacuhkan. Lena tak banyak memiliki teman perempuan, hanya beberapa saja, namun bagi Lena itu lebih dari cukup.
Sebuah sore di ujung musim penghujan.
Lena seperti biasa berjalan sendiri menyusuri jalan biasa ia pulang dan pergi sekolah. Namun hari itu berbeda. Sebuah keajaiban yang belum pernah ia percayai sebelumnya terjadi dalam hidupnya. Keajaiban yang akan merubah hidup Lena yang kosong.
Sore itu setelah menolak tawaran Roy.
Lena berjalan pulang. Jalanan seperti biasa terlihat sepi. Mendung menggantung di langit seperti siap sedia menurunkan hujan kapan saja. Tinggal sekitar dua puluh meter menuju rumahnya. Di persimpangan jalan terakhir sebelum jalan lurus menuju rumahnya. Lena melihat sebuah kardus yang terbuka. Di dalamnya seekor kucing kecil mengeong saat Lena mengintip isi kardus tersebut.
Sebenarnya Lena tidak terlalu menyukai hewan. Yang selama ini ia rawat adalah ikan di kolam kecil samping rumahnya—itupun ia jarang sekali memberi makan karena lupa. Melihat seekor kucing di pinggir jalan itupun tak membuat hati Lena tergerak. Ia memilih untuk pergi dan meninggalkan kucing itu. Kucing kecil itu terus mengeong saat Lena melangkah meninggalkan kardusnya.
“Alena!” Suara seseorang memanggilnya dari belakang.
Roy. Laki-laki itu mengayuh sepedanya lebih cepat. Wajahnya cerah dihiasi senyum sumringah.
“Kau baru sampai?”
“Ayolah, itu tidak penting, Roy, wajar saja jika aku berjalan kaki. Yang lebih aneh, jika kau baru sampai saat aku akan sampai. Kau jelas lebih dulu dan menggunakan sepeda.” Lena menjawabnya panjang lebar. Hei, ada yang aneh.
Roy tersenyum. “Aku sebenarnya ingin merawat kucing ini. Sebenarnya aku sudah hampir sampai sejak tadi, hanya saja aku kembali untuk membeli beberapa ikan kering untuk kucing ini.” Roy memperlihatkan kantong kecil yang tergantung di stang sepedanya.
“Maka, rawatlah. Kasihan, bukan? Kucing kecil ini akan kehujanan jika terus menerus di sini”
“Itulah masalahnya. Ibu dan ayahku sulit untuk diajak merawat hewan. Apa kau mau menampungnya sementara, Lena? Hanya untuk beberapa hari. Sampai aku bisa bicara pada orang tuaku dan mereka mengizinkanku merawatnya.” Pinta Roy.
“Jika orangtuamu tak mengizinkan?”
“Kita lepas kembali. Aku akan berusaha mencarikan majikan baru untukknya.”
Suasana hening senejak. Mata Roy mencerminkan betapa ia berharap Lena menerima permintaanya. Ia senang bisa berbicara dengan gadis itu.
“Hanya satu minggu. Oke?” Lena memberi keputusan.
“Oke!” Mata Roy membulat. “Tapi sebelumnya kita pikirkan nama untuknya.”
Lena hanya diam. Mengangkat kardus yang berisi kucing kecil itu.
“Bagaimana kalau ‘Den’?” Roy memberi usul.
“Tidak buruk. Baiklah, aku akan pulang membawa Den” Sekali lagi Lena menanggapi dengan dingin.
Roy masih berdiri dengan sepedanya. Menatap gadis itu dengan senyum. Akhirnya aku bisa bicara denganmu sedikit lebih lama.
***

Secara fisik sebenarnya Den  merupakan kucing rumahan biasa. Bulunya dominan berwarna putih, semenatara coraknya coklat dan hitam. Tapi ada yang spesial dari Den. Ia seekor kucing jantan. Den adalah seekor kucing yang langka, Lena pernah membaca tentang betapa langkanya dan mahalnya jika dijual kucing jantan tiga warna ini. dan, hei¸ia dibuang?
Lena mengamati sekali lagi Den. Ia senang melihatnya. Kucing kecil ini bergitu menggemaskan. Ia terlihat sehat dan lincah saat dikeluarkan dari kardus.
“Mulai sekarang, dan untuk sementara waktu, kau akan tinggal denganku, Den” Bisik Lena dengan mengelus ‘kucing sementara’nya itu.
Waktu bergelincir dengan cepat. Malam tiba. Lena sudah mematikan lampu kamarnya, namun matanya enggan terpejam. Tiba-tiba kenangan dengan ayahnya muncul kembali. Ia bertemu ‘hantu’ itu lagi. Lena menarik napas panjang. Ia duduk kembali, melihat Den yang tidur dengan lelap di samping kakinya. Bulu halusnya mengenai kaki Lena.
Ia hanya terus memandang Den, namun pikirannya masih bercampur dengan kenangan yang muncul malam itu. Kenangan saat ia masih kecil, kenangan saat ayahnya menggendongnya, kenangan saat makan malam bersama, kenangan saat ayahnya mengacak-acak rambutnya, kenangan saat ayahnya berpamitan untuk pergi ke sebuah perjalanan untuk terakhir kalinya, dan kenangan-kenangan lain yang membuat kepala Lena terasa penuh.
Seakan merasa aneh dengan manusia di sampingnya, tiba-tiba Den terbangun. Matanya lurus menatap mata Lena. Matanya yang kehijauan saat gelap menatap Lena yang terlihat frustasi. Kemudian hal aneh terjadi.
Mata Den yang kehijauan saat gelap seakan mengeluarkan cahaya lembut. Lena hanya terperangah melihatnya. Kemudian dari cahaya itu muncul sebuah bola kecil berwarna kehijauan yang berpendar. Terbang melayang dan turun di samping tempat tidur Lena. Tubuhnya kaku. Takut, kaget, ngeri dan penasaran menjadi satu. Sementara Den hanya diam seperti menunggu sesuatu.
Dari cahaya seperti bola yang berpendar itu, perlahan muncul seorang perempuan cantik yang dari fisiknya lebih tua 4 sampai lima tahun dari Lena. Makhluk itu seperti manusia. Hanya saja pakaiannya gaun yang indah khas orang Eropa. Dan beberapa saat kemudian di sampingnya muncul lagi seorang lagi, kali ini seorang laki-laki, jika ditaksir dari penampilannya laki-laki itu seusia dengan Lena.
“Siapa kalian?” Lena bertanya dengan ragu.
Perempuan itu belum menjawab. Ia masih diam sambil tersenyum menatap Lena.
“Aku Raana, dan dia adikku Zeo.” Beberapa saat kemudian perempuan itu menjawab.
“Apakah kalian hantu? Ataukan kucing ini yang hantu?” Lena bertanya panik. Ia berusaha mengecilkan suaranya, tak mau ibunya bangun karena ketakutannya.
“Tidak, Lena, sebelumnya bolehkan kami duduk? Ada sesuatu yang ingin kami ceritakan padamu” Perempuan itu masih tersenyum.

Lena mengangguk, kemudian dua orang itu duduk di tepi ranjang Lena.

Selasa, 29 November 2016

"Sahabat Super" (dedicated for My Best Ida Nur Jannah & Jami'atul Khoiriyah)

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Sumber: http://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html

***
            Kita tidak akan tahu di masa depan kita akan berteman dengan siapa, di mana kita akan tinggal, bagaimana kita menjalani hidup, dan banyak hak hal yang menarik tentang masa depan. Tapi kita selalu bisa menoleh ke masa lalu dan menjalani kehidupan sekarang, perihal dengan siapa saja kita berteman, dimana saja kita tinggal dan bagaimana kita menjalani hidup kita yang kita tak mampu mengintip masa depannya.
            Dan tentang seorang teman, aku akan menceritakan tentang dua  ‘teman superku’.
Namanya Ida Nur Jannah. Sekali melihat saja semua orang akan melihat jika dia seorang yang penuh wibawa—dan jelas berbeda sekali dengan saya (haha). Aku bertemu dengannya saat kamu berada di SMP yang sama, kelas yang sama. Dulu saat kelas satu ia selalu menjadi bahan pujian guru agama, nilainya selalu bagus dalam banyak pelajaran, sungguh, saat itu aku iri dengan anak ini.
Namun tidak ada yang menyangka jika kelak ia akan menjadi teman baikku—bahkan salah satu teman terbaikku. Entah bagaimana caritanya, kita menjadi teman. Awalnya memang teman biasa, tidak terlalu dekat seperti halnya yang disebut sahabat. Namun entah kejadian apa yang aku sendiri juga lupa, akhirnya lama-kelamaan kami berteman dekat. Bukan hanya aku dan Ida, juga dengan seorang lagi yang tidak kalah luar biasanya dengan temanku, Ida. Jami’atul Khoiriyah.
Sebuah persahabatan yang terjalin dalam waktu singkat, karena dalam persahabatan tidak mengenal waktu dan usia. Sungguh, jika tolak ukur sebuah persahabatan adalah waktu, maka yang jadi adalah orang-orang yang dengan egois memaksakan diri menjadi sahabat kita. Merasa mengenal satu sama lain meski sebenarnya tidak, sok tahu dengan kehidupan orang lain. Lantas, mengapa aku menyebutnya dalam waktu singkat? Karena hanya dalam waktu beberapa bulan saja kita sudah bisa bersahabat dengan baik, membagi seluruh masalah kehidupan dan menanganinya bersama, membagi kesenangan menjadi kebahagiaan bersama, dan kini telah berpilin menjadi kenangan yang menyenangkan.
Lazimnya, jarak akan merubah banyak hubungan manusia. Yang saling mencintai akan mengendur cintanya, yang saling percaya tak sedikit yang pudar rasa percayanya, yang saling membenci tak sedikit yang mulai lupa dengan perasaan benci yang dideritanya, pun masih banyak contoh lainnya. Namun entah bagaimana, rasanya hingga kini itu tak merubah hubungan kami. Kami bertiga memang tak pernah satu sekolah lagi semenjak SMA, tapi dengan cara-cara ajaib, sepertinya Allah selalu memberi jalan untuk kami bertiga selalu saling bersilaturrahmi. Mulai dari kunjungan ke pondok, saling berikirim pesan lewat sosial media, saling menelpon, dan ajaibnya lagi, kami pernah saling berkirim surat dan bertemu dalam acara-acara tak diduga sebelumnya. Sungguh, aku sendiri merasa Allah yang telah menjaga hubungan kami bertiga.
Hingga saat ini aku masih kagum dengan dua sahabat superku itu. Mereka mempunyai kelebihan yang selalu membuat kagum. Ida yang selalu memiliki sikap rendah hati dan teguh akan apa yang ia kerjakan, Jami’ dengan keuletan dan keramahannya. Dan aku sering merasa “aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka berdua”. Selalu demikian. Namun mereka selalu membuatku bangga, membesarkan hatiku yang mulai ciut dengan segala pikiran negatifku sendiri.
Jika aku boleh berbangga hati, maka aku akan selalu bangga dengan mereka berdua. Aku yang masih dangkal tentang agama, seperti terus disokong oleh mereka berdua. Sungguh, bercermin pada sebuah hadist, jika mereka diumpamakan penjual minyak wangi, maka aku selalu berharap akan terciprat pula kewangian dari minyak wangi yang mereka dagangkan.



Malang, 29 November 2016.

[REVIEW] FILM “Whisper of The Heart” (1995)

“Tentang Cinta, Cita-Cita, Sahabat dan Orangtua yang Berpilin Menjadi Satu” source : google.com Beberapa waktu ini saya mema...