Pos

Alena (Bagian Tiga)

KISAH ROY
            “Apa yang harus aku lakukan?”. Alena mengucap lirih. Hampir tak terdengar. Raana, Zeo dan Den memandang gadis lima belas tahun itu.Sejenak lengang. Masih tersisa keraguan dari suara lirih Alena.“Kami mohon, pergilah dengan kami ke pulau putih.” Zeo dengan terus terang meminta Alena. “Dan dengan Roy” Tambah Raana.“Bisa kau jelaskan apa hubungan Roy dengan semua ini?” Mata bulat Alena menyelidik Raana dengan penuh penasaran. Namun dengan lembut Raana menggelengkan kepala.“Kau bisa bertanya dengannya besok, Alena. Sekarang waktumu tidur. Kita harus kembali ke dalam tubuh Den. Tapi sebelum itu, apakah kau bersedia ikut dengan kami, Alena? Demi Den, demi kami, demi tuan-tuan kami, dan demi seluruh pulau putih itu?” “Sayangnya aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Raana. Kau tahu, ibuku tak akan mengizinkanku.” Alena menunduk.Percakapan itu berakhir dengan kesenyapan. Raana dan Zeo kembali ke dalam tubuh Den. Dan Den meringkuk di kaki Alena, bersiap untuk tidur. Alena me…

Alena (Bagian Dua)

SEBUAH KISAH
“Kau senang dengan kucing ini?” laki-laki yang dipanggil Zeo itu memulai percakapan.Lena perlahan mengangguk.“Kucing yang indah, bukan?” Raana tersenyum. Mengelus Den yang diam memandang kami bercakap.“Kau tahu, Lena, kucing ini bukan kucing biasa.” Zeo mulai menejelaskan. “Den adalah kucing dari Pulau yang dikutuk, pulau yang harus kau selamatkan, Pulau Putih.”Lena tak mengerti. Gadis itu perlu mencerna kalima anak laki-laki di depannya. Ia hanya menggelengkan kepala tak percaya.“Pulau putih? Apalagi itu? Pertama seekor kucing yang dari matanya mengeluarkan cahaya, lalu muncul kalian, dan sekarang? Pulau putih?” “Biar aku yang menjelaskan. Ini bukanlah kisah indah seperti dongeng yang selama ini sering kau dengar. Kisah ini tentang keluargaku, kehidupan Den, dan pulau putih.” Raana memilih untuk berbicara.Lengang sejenak. Lena mengatur napasnya. “Baik. Aku akan mendengarkannya.”Bola mata Zeo yang kecoklatan menatap Raana, ikut menyimak apa yang akan diceriatakan kakaknya.…

Alena (Bagian Satu)

AlenaNamanya Alena. Keluarganya, teman-temannya dan orang yang baru dikenalnya banyak memanggilnya Lena. Seorang gadis kecil dengan rambut yang dikepang dua. Usianya 12 tahun, masa di mana biasanya anak seumurannya bahagia bermain dengan teman sebaya dan dimanjakan orang tuanya. Tapi tidak bagi Lena. Lena seorang anak yatim. Ibunya mengasuhnya sendiri dengan segala yang ia bisa. Ayah Lena meninggal saat perjalanan pulang dari berdagang di luar kota saat gadis kecil itu berusia 8 tahun. Dan sejak hari itulah, kehidupan Lena berubah. Lena seorang anak yang manis. Kulitnya yang putih dan lesung pipi yang menawan membuat orang melihatnya merasa senang. Belum lagi matanya yang biru dan rambutnya kecoklatan tanpa memerluakn semir. Jika bisa digambarkan, mungkin ia seperti putri kecil dari negeri dongeng yang kerap diceritakan oleh banyak orang tua sebelum anak mereka tidur. Namun ada satu hal yang jarang terlihat pada diri Lena. Ia jarang tersenyum.Lena menjadi gadis yang pendiam semenjak a…

"Sahabat Super" (dedicated for My Best Ida Nur Jannah & Jami'atul Khoiriyah)

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Sumber:http://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html
***            Kita tidak akan tahu di masa depan kita akan berteman dengan siapa, di mana kita akan tinggal, bagaimana kita menjalani hidup, dan banyak hak hal yang menarik tentang masa depan. Tapi kita selalu bisa menoleh ke masa lalu dan menjalani kehidupan sekarang, perihal dengan siapa saja kita berteman, dimana saja kita tinggal dan bagaimana kita menjalani hidup kita yang kita tak mampu mengintip masa depannya.             Dan tentang seorang teman, aku akan menceritakan tentang dua  ‘teman superku’.Namanya Ida Nur Jannah. Sekali melihat saja semua orang akan melihat jika dia seorang yang penuh wibawa—dan jelas berbeda sekali dengan saya (haha). Aku bertemu dengannya saat kamu berada di SMP yang sama, kela…

Melepaskan dan Sebuah Penerimaan

Sering kali kita lalai, bilang kita kehilangan sesuatu dan menjadi makhluk paling nestaoa di dunia.
Sering kali kita lupa, terus menengadah bagai peminta yang ingin lekas tangan terbukanya penuh. Lupa, bahwa hakikat menerima dekat sekali dengan melepaskan, dan sebaliknya, melepaskan dekat sekali dengan sebuah penerimaan. Dimana kita harus rela melepaskan, untuk menerima yang baru. Sayangnya kita terlalu tamak, memilih untuk terus menerima, hingga tanpa sadaar kita telah meminta-minta. Berharap tengadahan tangan semakin penuh dan penuh, lantas lupa jika tangan punya kapasitasnya, ada daya tampungnya. 
Kita lupa akan arti keikhlasan, lupa pula arti kesabaran, pun dengan arti melepaskan. Yang diingat hanya kehilangan, kerugian dan kesulitan.
Kita lupa bahwa segala yang dilepas akan diganti. Dengan berbagai bentuk kembalinya, dengan banyak kejadian menakjubkan mengantarnya kembali. Maka, dengan demikian, semakin lepas kita melepaskan, semakin indah penerimaan yang akan didapat. Akan menj…

Apa yang Kau Harap Dari Sebuah Mercusuar?

Gambar
Apa yang kau harapkan dari sebuah mercusuar?
Yang saat siang hanya berdiri teronggok tidak bergeming menatap lautan
Jika diibaratkan ia bagai seorang gadis yang menunggu kekasihnya lulus dari ujian ketangguhan laut

Apa yang kau harapkan dari sebuah mercusuar?
Yang kau bahkan tak pernah melihatnya
Hanya bayanganmu saja yang membuatmu kagum melihatnya gagah sebagai petunjuk arah

Apa yang kau harap dari sebuah mercusuar?
Pun sama dengan apa yang kau harap dariku
Tidak berdaya jika lampu rusak dan kabut gelap

Apa yang kau harap dari sebuah mercusuar?
Sebegitu hebatkah bangunan itu?
Hingga membuatmu terkagum saat aku menceritakannya padamu.
Atau, hanya aku saja yang tak menganggap hebat sebuah mercusuar?


Malang, 20 November 2016

Ceritaku dan Hujanmu

Senyapnya masih membasuh malam
Dinginnya masih menyelinap lewat jendela Dan hatinya masih abu-abu Tak jelas hitam atau putihnya
Rinai-nya masih membasuh debu Membuatnya kalut menjadi licak tipis tanah Hati-hati saja, jika tak melihat bisa-bisa kotor celana bocah-bocah berlarian Dan jika sudah kotor maka mengomel-lah ibu seharian
Kau masih dengan payung birumu Berteduh merunduk berjalan tergesa Seakan takut sekali hujan akan menghabisimu' Tapi tetap saja, tempiasnya akan terus mengikutimu
Jika boleh aku bertanya, Hendak kemana kau sebenarnya? Terus berjalan mondar-mandir dengan gurat cemas tergambar jelas Akankah kau akan mampir ke sini?  Menemani gadis sendiri ini menghabiskan hujan?
Ahh,  Tak patut juga aku bertanya Kacamatamu  berembun melawan perbedaan udara Jika boleh aku ingin mengelapnya dengan segala kerinduan yang aku miliki agar sirna sudah yang menghalangi matamu
Layaknya pepatah lama "Cinta tak  harus memiliki" Cepat sekali kata itu diucap Cepat sekali pula ak…