Sabtu, 25 Februari 2017

Alena (Bagian Satu)

Alena
Namanya Alena. Keluarganya, teman-temannya dan orang yang baru dikenalnya banyak memanggilnya Lena. Seorang gadis kecil dengan rambut yang dikepang dua. Usianya 12 tahun, masa di mana biasanya anak seumurannya bahagia bermain dengan teman sebaya dan dimanjakan orang tuanya. Tapi tidak bagi Lena.
Lena seorang anak yatim. Ibunya mengasuhnya sendiri dengan segala yang ia bisa. Ayah Lena meninggal saat perjalanan pulang dari berdagang di luar kota saat gadis kecil itu berusia 8 tahun. Dan sejak hari itulah, kehidupan Lena berubah.
Lena seorang anak yang manis. Kulitnya yang putih dan lesung pipi yang menawan membuat orang melihatnya merasa senang. Belum lagi matanya yang biru dan rambutnya kecoklatan tanpa memerluakn semir. Jika bisa digambarkan, mungkin ia seperti putri kecil dari negeri dongeng yang kerap diceritakan oleh banyak orang tua sebelum anak mereka tidur. Namun ada satu hal yang jarang terlihat pada diri Lena. Ia jarang tersenyum.
Lena menjadi gadis yang pendiam semenjak ayahnya meninggal. Kenangan masa kecil yang bahagia seperti hantu yang terus menakutinya setiap malam. Semuda itu ia paham bahwa ‘yang pergi tak akan pernah kembali’. Tak jarang air matanya mengalir dengan sendirinya saat lampu kamarnya sudah lama dimatikan oleh ibunya. Matanya mengerjap di tengah gelap, menikmati kenangan indah yang terus ‘menghantuinya’. Ibunya tak pernah tahu, hanya Lena dan Tuhan yang tahu bahwa ia menangis. Ia tak pernah mau bercerita kepada ibunya bahwa ia sendang bersedih—karena ia tahu bahwa ibunya lebih bersedih lagi. Ia hanya berharap, suatu saat akan ada orang lain yang bisa tahu tentang keluh di hatinya. Yang bukan ibunya, ia takut memberi beban yang lebih besar lagi pada ibunya.
Suatu sore di musim penghujan.
Lena duduk di beranda rumahnya. Segelas teh hangat mangepulkan asap tipis di atasnya. Ia menungu ibunya yang masih di dalam rumah—beberapa menit lalu ibunya memintanya menunggu. Matanya menatap gerimis yang semakin sering. Seperti tirai tiada berkesudahan. Begitu banyak, rapat, berisik namun tetap indah. Lena selalu menyukai hujan. Tempias airnya, suara berisiknya, bau tanah basah hingga udara dingin yang siap menembus kulitnya.
Beberapa menit kemudian ibunya keluar dari rumah sambil membawa sepiring kue kering dan kemudian duduk di samping putri semata wayangnya. Untuk beberapa menit suasana malah menjadi canggung. Yan terdengar hanya tetesan air hujan yang semakin berisik menyerang tanah.
“Bagaimana sekolahmu, Lena?”
Ibunya memulai pembicaraan.
“Baik, seperti biasa selalu baik” Lena berusaha menanggapi dengan senyum—meski dipaksakan.
“Tadi ibu bertemu dengan Nyonya Farah. Dia mencemaskanmu.” Ibunya tahu anaknya berbohong. “Kenapa kamu jadi pendiam, Nak?”.
Suasana kembali canggung. Tanpa basa basi ibunya langsung pada inti permasalahan. Udara seperti tak dingin lagi bagi Lena.
“Aku rindu ayah.” Itulah yang terucap dari mulut Lena.
Ibunya yang memandang wajah Lena terperanjat. Kelu lidahnya.
“Entah mengapa berbulan-bulan ini aku selalu mengingat ayah. Suaranya, wajahnya, senyumnya, marahnya, dan bagaimana ayah menggendongku. Aku ingin agar setiap ingatanku tentang ayah segera pergi, seperti ayah yang pergi terlalu cepat.” Hatinya buncah, semua yang ada di pikirannya ingin segera ia luapkan, namun kalimat-kalimat yang ia ucapkan seperti tak pernah cukup untuk mengungkapkan apa yang ada dipikian dan hatinya.
Ibunya di sampingnya hanya diam. Matanya nanar melihat putrinya yang ingin menangis namun sekuat mungkin ia tahan. Matanya tak pernah tertuju pada ibunya. Hanya melihat ke arah hujan yang semakin lebat.
“Bukan kau satu-satunya yang merindukan ayahmu, Nak, ibu juga merindukan ayahmu.” Hanya itu yang sanggup ibunya katakan.
“Lena tak pernah ingin mengatakan ini pada ibu, karena Lena yakin ibu pasti lebih sedih dibandingkan siapapun atas meninggalnya ayah.” Lena tampak menyesal, ia akhirnya memandang lurus ke arah ibunya.
“Itukah yang selama ini membuatmu menjadi pendiam, Nak?”
Lena mengangguk. Matanya masih berair.
“Bisakah kau kembali tersenyum seperti biasa, Nak? Untuk ibu?”
Lena tak menjawab. Matanya kembali menatap hujan. Dengan demikian percakapan mereka usai di sana. Ibu dan anak itu tak berbicara lagi, kalut dalam pikiran masing-masing. Hingga paginya mereka baru bercakap kembali. Itupun karena Lena harus berpamitan dengan ibunya sebelum berangkat sekolah, dan ibunya seperti biasa menyerahkan bekal makan siang untuk putrinya.
Lena berangkat dengan hati seperti biasanya—kosong. Ia terbiasa dengan hal itu. Gadis dengan rambut dikepang dua itu terus berjalan. Menyusuri jalan tanpa ragu. Pergi ke sekolah untuk bertemu teman dan gurunya. Belajar bersama semuanya. Dan pulang seperti biasanya.
Di perjalanan pulang ia disapa oleh Roy, teman sekelas sekaligus tetangganya. Roy yang menggunakan sepeda menawarinya untuk pulang bersama, sebelum hujan kembali turun katanya. Namun dengan senyum tipis Lena menolak. Bilang ia lebih suka berjalan kaki. Roy tak menyerah, menawarkan diri untuk menemani Lena berjalan kaki. Dan sekali lagi Lena menolak, ia lebih suka berjalan sendiri. Roy menyerah, ia tersenyum dan berpamitan untuk pulang duluan. “Mungkin besok aku bisa pulang dengannya” pikir Roy yang perlahan mengayuh sepedanya meninggalkan Lena. Sementara Lena berpikiran lain, “Dan jika ia mengajakku pulang bersama lagi, aku akan menolaknya lagi.”
Seperti itulah, bukan dibuat-buat. Lena memanglah gadis yang dingin. Menikmati kesendirian. Berbeda dengan Lena saat berumur 7 tahun yang senang bermain dengan teman-temannya.
Hingga tahun pun berganti. Usia Lena saat ini 15 tahun. Sikap Lena tak banyak berubah. Terkadang ibunya merasa resah, namun Lena adalah gadis yang keras kepala, ia tetap melanjutkan hidupnya sebagaimana ia ingin menjalani hidup.
“Lena, kali ini kau mau bareng denganku?”
Seorang anak laki-laki seumuran dengannya dengan menggunakan sepeda menunggunya di depan rumah
“Tidak, Roy, kau pergi dulu saja, aku akan berjalan kaki seperti biasa.”
“Baiklah, bilang saja jika suatu saat kau membutuhkan tumpangan”
Lena hanya tersenyum, mengantar anak laki-laki yang tak perah menyerah menawarinya tumpangan setiap pagi.
“Bukankah akan lebih baik jika kau berangkat dengan Roy, Lena?” Ibunya yang seperti biasa menyerahkan bekal untuk putrinya tersenyum saat bertanya demikian.
“Roy akan kesusahan memboncengku, Bu, aku tidak ingin merepotkan orang lain.” Lena menjawab dan berpamitan dengan ibunya.
Apakah Lena berubah? Tidak. Hatinya masih kosong, hanya saja kenangan indah dengan ayahnya kini tak sesering dulu menghantuinya. Meski bertahun ia masih senang memendam perasaannya sendiri. Sendiri tanpa orang lain yang tahu—meski sebenarnya ibunya tahu betul apa yang dirasakan putrinya.
***
            Lena tumbuh menjadi remaja yang amat cantik. Seluruh teman di sekolahnya senang melihat parasnya. Banyak teman laki-laki mendekatinya, namun tak ada berhasil—kecuali Roy yang terus ada di sekitar Lena meski lebih sering diacuhkan. Lena tak banyak memiliki teman perempuan, hanya beberapa saja, namun bagi Lena itu lebih dari cukup.
Sebuah sore di ujung musim penghujan.
Lena seperti biasa berjalan sendiri menyusuri jalan biasa ia pulang dan pergi sekolah. Namun hari itu berbeda. Sebuah keajaiban yang belum pernah ia percayai sebelumnya terjadi dalam hidupnya. Keajaiban yang akan merubah hidup Lena yang kosong.
Sore itu setelah menolak tawaran Roy.
Lena berjalan pulang. Jalanan seperti biasa terlihat sepi. Mendung menggantung di langit seperti siap sedia menurunkan hujan kapan saja. Tinggal sekitar dua puluh meter menuju rumahnya. Di persimpangan jalan terakhir sebelum jalan lurus menuju rumahnya. Lena melihat sebuah kardus yang terbuka. Di dalamnya seekor kucing kecil mengeong saat Lena mengintip isi kardus tersebut.
Sebenarnya Lena tidak terlalu menyukai hewan. Yang selama ini ia rawat adalah ikan di kolam kecil samping rumahnya—itupun ia jarang sekali memberi makan karena lupa. Melihat seekor kucing di pinggir jalan itupun tak membuat hati Lena tergerak. Ia memilih untuk pergi dan meninggalkan kucing itu. Kucing kecil itu terus mengeong saat Lena melangkah meninggalkan kardusnya.
“Alena!” Suara seseorang memanggilnya dari belakang.
Roy. Laki-laki itu mengayuh sepedanya lebih cepat. Wajahnya cerah dihiasi senyum sumringah.
“Kau baru sampai?”
“Ayolah, itu tidak penting, Roy, wajar saja jika aku berjalan kaki. Yang lebih aneh, jika kau baru sampai saat aku akan sampai. Kau jelas lebih dulu dan menggunakan sepeda.” Lena menjawabnya panjang lebar. Hei, ada yang aneh.
Roy tersenyum. “Aku sebenarnya ingin merawat kucing ini. Sebenarnya aku sudah hampir sampai sejak tadi, hanya saja aku kembali untuk membeli beberapa ikan kering untuk kucing ini.” Roy memperlihatkan kantong kecil yang tergantung di stang sepedanya.
“Maka, rawatlah. Kasihan, bukan? Kucing kecil ini akan kehujanan jika terus menerus di sini”
“Itulah masalahnya. Ibu dan ayahku sulit untuk diajak merawat hewan. Apa kau mau menampungnya sementara, Lena? Hanya untuk beberapa hari. Sampai aku bisa bicara pada orang tuaku dan mereka mengizinkanku merawatnya.” Pinta Roy.
“Jika orangtuamu tak mengizinkan?”
“Kita lepas kembali. Aku akan berusaha mencarikan majikan baru untukknya.”
Suasana hening senejak. Mata Roy mencerminkan betapa ia berharap Lena menerima permintaanya. Ia senang bisa berbicara dengan gadis itu.
“Hanya satu minggu. Oke?” Lena memberi keputusan.
“Oke!” Mata Roy membulat. “Tapi sebelumnya kita pikirkan nama untuknya.”
Lena hanya diam. Mengangkat kardus yang berisi kucing kecil itu.
“Bagaimana kalau ‘Den’?” Roy memberi usul.
“Tidak buruk. Baiklah, aku akan pulang membawa Den” Sekali lagi Lena menanggapi dengan dingin.
Roy masih berdiri dengan sepedanya. Menatap gadis itu dengan senyum. Akhirnya aku bisa bicara denganmu sedikit lebih lama.
***

Secara fisik sebenarnya Den  merupakan kucing rumahan biasa. Bulunya dominan berwarna putih, semenatara coraknya coklat dan hitam. Tapi ada yang spesial dari Den. Ia seekor kucing jantan. Den adalah seekor kucing yang langka, Lena pernah membaca tentang betapa langkanya dan mahalnya jika dijual kucing jantan tiga warna ini. dan, hei¸ia dibuang?
Lena mengamati sekali lagi Den. Ia senang melihatnya. Kucing kecil ini bergitu menggemaskan. Ia terlihat sehat dan lincah saat dikeluarkan dari kardus.
“Mulai sekarang, dan untuk sementara waktu, kau akan tinggal denganku, Den” Bisik Lena dengan mengelus ‘kucing sementara’nya itu.
Waktu bergelincir dengan cepat. Malam tiba. Lena sudah mematikan lampu kamarnya, namun matanya enggan terpejam. Tiba-tiba kenangan dengan ayahnya muncul kembali. Ia bertemu ‘hantu’ itu lagi. Lena menarik napas panjang. Ia duduk kembali, melihat Den yang tidur dengan lelap di samping kakinya. Bulu halusnya mengenai kaki Lena.
Ia hanya terus memandang Den, namun pikirannya masih bercampur dengan kenangan yang muncul malam itu. Kenangan saat ia masih kecil, kenangan saat ayahnya menggendongnya, kenangan saat makan malam bersama, kenangan saat ayahnya mengacak-acak rambutnya, kenangan saat ayahnya berpamitan untuk pergi ke sebuah perjalanan untuk terakhir kalinya, dan kenangan-kenangan lain yang membuat kepala Lena terasa penuh.
Seakan merasa aneh dengan manusia di sampingnya, tiba-tiba Den terbangun. Matanya lurus menatap mata Lena. Matanya yang kehijauan saat gelap menatap Lena yang terlihat frustasi. Kemudian hal aneh terjadi.
Mata Den yang kehijauan saat gelap seakan mengeluarkan cahaya lembut. Lena hanya terperangah melihatnya. Kemudian dari cahaya itu muncul sebuah bola kecil berwarna kehijauan yang berpendar. Terbang melayang dan turun di samping tempat tidur Lena. Tubuhnya kaku. Takut, kaget, ngeri dan penasaran menjadi satu. Sementara Den hanya diam seperti menunggu sesuatu.
Dari cahaya seperti bola yang berpendar itu, perlahan muncul seorang perempuan cantik yang dari fisiknya lebih tua 4 sampai lima tahun dari Lena. Makhluk itu seperti manusia. Hanya saja pakaiannya gaun yang indah khas orang Eropa. Dan beberapa saat kemudian di sampingnya muncul lagi seorang lagi, kali ini seorang laki-laki, jika ditaksir dari penampilannya laki-laki itu seusia dengan Lena.
“Siapa kalian?” Lena bertanya dengan ragu.
Perempuan itu belum menjawab. Ia masih diam sambil tersenyum menatap Lena.
“Aku Raana, dan dia adikku Zeo.” Beberapa saat kemudian perempuan itu menjawab.
“Apakah kalian hantu? Ataukan kucing ini yang hantu?” Lena bertanya panik. Ia berusaha mengecilkan suaranya, tak mau ibunya bangun karena ketakutannya.
“Tidak, Lena, sebelumnya bolehkan kami duduk? Ada sesuatu yang ingin kami ceritakan padamu” Perempuan itu masih tersenyum.

Lena mengangguk, kemudian dua orang itu duduk di tepi ranjang Lena.

Selasa, 29 November 2016

"Sahabat Super" (dedicated for My Best Ida Nur Jannah & Jami'atul Khoiriyah)

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Sumber: http://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html

***
            Kita tidak akan tahu di masa depan kita akan berteman dengan siapa, di mana kita akan tinggal, bagaimana kita menjalani hidup, dan banyak hak hal yang menarik tentang masa depan. Tapi kita selalu bisa menoleh ke masa lalu dan menjalani kehidupan sekarang, perihal dengan siapa saja kita berteman, dimana saja kita tinggal dan bagaimana kita menjalani hidup kita yang kita tak mampu mengintip masa depannya.
            Dan tentang seorang teman, aku akan menceritakan tentang dua  ‘teman superku’.
Namanya Ida Nur Jannah. Sekali melihat saja semua orang akan melihat jika dia seorang yang penuh wibawa—dan jelas berbeda sekali dengan saya (haha). Aku bertemu dengannya saat kamu berada di SMP yang sama, kelas yang sama. Dulu saat kelas satu ia selalu menjadi bahan pujian guru agama, nilainya selalu bagus dalam banyak pelajaran, sungguh, saat itu aku iri dengan anak ini.
Namun tidak ada yang menyangka jika kelak ia akan menjadi teman baikku—bahkan salah satu teman terbaikku. Entah bagaimana caritanya, kita menjadi teman. Awalnya memang teman biasa, tidak terlalu dekat seperti halnya yang disebut sahabat. Namun entah kejadian apa yang aku sendiri juga lupa, akhirnya lama-kelamaan kami berteman dekat. Bukan hanya aku dan Ida, juga dengan seorang lagi yang tidak kalah luar biasanya dengan temanku, Ida. Jami’atul Khoiriyah.
Sebuah persahabatan yang terjalin dalam waktu singkat, karena dalam persahabatan tidak mengenal waktu dan usia. Sungguh, jika tolak ukur sebuah persahabatan adalah waktu, maka yang jadi adalah orang-orang yang dengan egois memaksakan diri menjadi sahabat kita. Merasa mengenal satu sama lain meski sebenarnya tidak, sok tahu dengan kehidupan orang lain. Lantas, mengapa aku menyebutnya dalam waktu singkat? Karena hanya dalam waktu beberapa bulan saja kita sudah bisa bersahabat dengan baik, membagi seluruh masalah kehidupan dan menanganinya bersama, membagi kesenangan menjadi kebahagiaan bersama, dan kini telah berpilin menjadi kenangan yang menyenangkan.
Lazimnya, jarak akan merubah banyak hubungan manusia. Yang saling mencintai akan mengendur cintanya, yang saling percaya tak sedikit yang pudar rasa percayanya, yang saling membenci tak sedikit yang mulai lupa dengan perasaan benci yang dideritanya, pun masih banyak contoh lainnya. Namun entah bagaimana, rasanya hingga kini itu tak merubah hubungan kami. Kami bertiga memang tak pernah satu sekolah lagi semenjak SMA, tapi dengan cara-cara ajaib, sepertinya Allah selalu memberi jalan untuk kami bertiga selalu saling bersilaturrahmi. Mulai dari kunjungan ke pondok, saling berikirim pesan lewat sosial media, saling menelpon, dan ajaibnya lagi, kami pernah saling berkirim surat dan bertemu dalam acara-acara tak diduga sebelumnya. Sungguh, aku sendiri merasa Allah yang telah menjaga hubungan kami bertiga.
Hingga saat ini aku masih kagum dengan dua sahabat superku itu. Mereka mempunyai kelebihan yang selalu membuat kagum. Ida yang selalu memiliki sikap rendah hati dan teguh akan apa yang ia kerjakan, Jami’ dengan keuletan dan keramahannya. Dan aku sering merasa “aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka berdua”. Selalu demikian. Namun mereka selalu membuatku bangga, membesarkan hatiku yang mulai ciut dengan segala pikiran negatifku sendiri.
Jika aku boleh berbangga hati, maka aku akan selalu bangga dengan mereka berdua. Aku yang masih dangkal tentang agama, seperti terus disokong oleh mereka berdua. Sungguh, bercermin pada sebuah hadist, jika mereka diumpamakan penjual minyak wangi, maka aku selalu berharap akan terciprat pula kewangian dari minyak wangi yang mereka dagangkan.



Malang, 29 November 2016.

Selasa, 22 November 2016

Melepaskan dan Sebuah Penerimaan

Sering kali kita lalai, bilang kita kehilangan sesuatu dan menjadi makhluk paling nestaoa di dunia.
Sering kali kita lupa, terus menengadah bagai peminta yang ingin lekas tangan terbukanya penuh.
Lupa, bahwa hakikat menerima dekat sekali dengan melepaskan, dan sebaliknya, melepaskan dekat sekali dengan sebuah penerimaan.
Dimana kita harus rela melepaskan, untuk menerima yang baru.
Sayangnya kita terlalu tamak, memilih untuk terus menerima, hingga tanpa sadaar kita telah meminta-minta.
Berharap tengadahan tangan semakin penuh dan penuh, lantas lupa jika tangan punya kapasitasnya, ada daya tampungnya. 

Kita lupa akan arti keikhlasan, lupa pula arti kesabaran, pun dengan arti melepaskan.
Yang diingat hanya kehilangan, kerugian dan kesulitan.

Kita lupa bahwa segala yang dilepas akan diganti. Dengan berbagai bentuk kembalinya, dengan banyak kejadian menakjubkan mengantarnya kembali.
Maka, dengan demikian, semakin lepas kita melepaskan, semakin indah penerimaan yang akan didapat.
Akan menjadi luar biasa jika hadiah dari melepaskan itu adalah sebuah hati yang baru.
Hati yang dilengkapi fitur sabar dan tulus. Bersih dan memesona. 
Adakah yang bisa mengalahkan sebuah hati dengan kemilau kesabaran di dalamnya?

Maka, sudah semestinya kita memahami.
Melepaskan selalu dekat dengan penerimaan baru. Penerimaan selalu dekat dengan melepaskan.
Dan saat kita bersiap menerima hal yang baru, tak melulu juga diganti dengan hal yang sama. 
Hadiah sebuah pelepasan yang indah akan mendapat ganti yang luar biasa. Hati yang semakin tinggi harganya, dipenuhi kemilau sabar dan ketulusan.


Malang, 10 November 2016.

Minggu, 20 November 2016

Apa yang Kau Harap Dari Sebuah Mercusuar?

pict by google.com


Apa yang kau harapkan dari sebuah mercusuar?
Yang saat siang hanya berdiri teronggok tidak bergeming menatap lautan
Jika diibaratkan ia bagai seorang gadis yang menunggu kekasihnya lulus dari ujian ketangguhan laut

Apa yang kau harapkan dari sebuah mercusuar?
Yang kau bahkan tak pernah melihatnya
Hanya bayanganmu saja yang membuatmu kagum melihatnya gagah sebagai petunjuk arah

Apa yang kau harap dari sebuah mercusuar?
Pun sama dengan apa yang kau harap dariku
Tidak berdaya jika lampu rusak dan kabut gelap

Apa yang kau harap dari sebuah mercusuar?
Sebegitu hebatkah bangunan itu?
Hingga membuatmu terkagum saat aku menceritakannya padamu.
Atau, hanya aku saja yang tak menganggap hebat sebuah mercusuar?


Malang, 20 November 2016

Sabtu, 29 Oktober 2016

Ceritaku dan Hujanmu

Senyapnya masih membasuh malam
Dinginnya masih menyelinap lewat jendela
Dan hatinya masih abu-abu
Tak jelas hitam atau putihnya

Rinai-nya masih membasuh debu
Membuatnya kalut menjadi licak tipis tanah
Hati-hati saja, jika tak melihat bisa-bisa kotor celana bocah-bocah berlarian
Dan jika sudah kotor maka mengomel-lah ibu seharian

Kau masih dengan payung birumu
Berteduh merunduk berjalan tergesa
Seakan takut sekali hujan akan menghabisimu'
Tapi tetap saja, tempiasnya akan terus mengikutimu

Jika boleh aku bertanya,
Hendak kemana kau sebenarnya?
Terus berjalan mondar-mandir dengan gurat cemas tergambar jelas
Akankah kau akan mampir ke sini? 
Menemani gadis sendiri ini menghabiskan hujan?

Ahh, 
Tak patut juga aku bertanya
Kacamatamu  berembun melawan perbedaan udara
Jika boleh aku ingin mengelapnya
dengan segala kerinduan yang aku miliki agar sirna sudah yang menghalangi matamu

Layaknya pepatah lama
"Cinta tak  harus memiliki"
Cepat sekali kata itu diucap
Cepat sekali pula aku harus memahaminya
Layaknya hujan yang tiba-tiba jatuh memeluk tanah
Secepat itulah aku harus menepis setiap bayangan tentangmu

Sayangnya Hujan selalu membawa cerita
Ceritamu, ceritaku dan cerita semua orang yang pernah mengikrarkan cerita di bawahnya
Namun ceritaku dan ceritamu tak pernah sama
berbeda tokohnya
berbeda perasaannya
Jika ceritaku adalah tentangmu
Maka ceritamu bukan tentangku

Ceritamu adalah tentang dia yang membuatmu selalu mengingat tentang hujan.
Hujan yang khusus untukmu.


Sayangnya hujan ini turun setiap tahun
Hingga aku lupa bagaimana cara melupakanmu



Malang, 29 Oktober 2016 

Selasa, 04 Oktober 2016

[RESENSI NOVEL MATAHARI] Memaknai Sebuah Perjalanan; Petualang yang Baik Akan Melakukan Petualangan Terbaik

Judul Buku      : Matahari
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Penulis             : Tere Liye
Tebal Buku      : 390 Halaman
Genre              : Fantasi
ISBN               : 978-602-03-3211-6
Harga              : Rp. 82.000,00 (tbodelisa.blogspot.com)
Tahun Terbit    : Juli 2016


Memaknai Sebuah Perjalanan; Petualang yang Baik Akan Melakukan Petualangan Terbaik
Sinopsis:
Namanya Ali, 15 tahun kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.
Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.
Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya. Dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.
***
            Sebuah novel yang ditunggu oleh pembacanya sepanjang tahun. Buku ketiga dari serial “BUMI”, novel Matahari telah terbit pada bulan Juli 2016. Kali ini sang penulis 24 buku yang hampir selalu laris, Tere Liye, berhasil menyuguhkan cerita yang lebih fantastis dan seru, sebuah grafik naik yang menyenangkan, jika diurutkan dari buku pertamanya (“Bumi”) dan buku keduanya (“Bulan”). Bahkan dari kunjungan saya, novel Matahari  ini berhasil menjadi Best Seller di beberapa toko buku besar di kota saya, belum lagi dalam jangkauan seluruh negeri. Luar biasa.
Tercermin dari sinopsisnya, novel Matahari ini akan banyak bercerita tentang Ali; si biang kerok, si jenius, si eksentrik atau si apalagilah yang menggambarkan remaja laki-laki sahabat Raib dan Seli. Terang saja, banyak sisi lain kehidupan Ali yang terkuak dalam novel ini, seperti bentuk rumah Ali, pekerjaan orangtua Ali, sikap Ali terhadap kedua orangtuanya, panggilan “Tuan Muda Ali”, bentuk kamar Ali, dan banyak hal tentang Ali, termasuk juga sebuah kecurangan luar biasa yang ia lakukan. Hal ini benar, karena cerita yang berpusat pada Seli sudah mendapat porsinya sendiri pada novel sebelumnya, Bulan, dan cerita yang berpusat pada Raib sendiri sudah ada di buku paling awal, Bumi. Di novel ini bukan hanya sisi lain kehidupan Ali yang akan terkuak, tetapi juga beberapa hal penting lain yang sejak novel pertama belum diketahui jawabannya. Seli akan membantu banyak dalam jalan cerita novel ini, Ia memiliki banyak upgrade, baik upgrade dalam hal sifatnya sampai pada kekuatannya. Tak lupa, Raib juga akan mendapatkan banyak poin penting yang berpengaruh besar dalam hidupnya, ia akan mendapat jawaban dari pertanyaan besar yang selalu mengganggu dan mendapat upgrade tingkat tinggi berkenaan dengan kekuatannya.
Meskipun lebih banyak berkisah tentang sisi lain Ali, novel Matahari ini tetap bersudut pandang sama dengan dua novel sebelumnya, yaitu sudut pandang orang pertama, lebih tepatnya dari sisi Raib. Penulis menceritakan setiap detail perjalanan cerita ini dengan luwes dan membuat imajinasi pembacanya bermain. Bahkan jika terlalu berimajinasi, bisa-bisa pembaca akan menganggap dirinya sebagai Raib dan memiliki sahabat Seli serta Ali yang bertualang ke tempat yang tidak terduga sebelumnya.
Pada novel Matahari  ini juga akan menyinggung kisah menyedihkan tentang tewasnya Ily pada akhir novel Bulan. Mencerminkan suatu pepatah legendaris, Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan kematian, hal ini juga terjadi pada Ily, bahkan Av yang memiliki kekuatan menyembuhkan pun tidak bisa menyelamatkan Ily dari kematian yang menjemputnya. “Tidak ada kekuatan di klan mana pun yang bisa menghidupkan putra sulungmu. Aku sungguh minta maaf”(halaman 18).
Kisah persahahabatan luar biasa ini tidak hanya berhenti di kesedihan kematian Ily saja, justru dari sinilah petualangan hebat mereka dimulai. Mereka akan kembali bertualang dengan perjalanan yang paling menantang, perjalanan yang berbeda dibanding perjalanan-perjalanan yang sebelumnya mereka alami. Dan di perjalanan inilah mereka akan menyadari, bahwa persahabatan adalah hal yang terpenting dalam berbagai hal. Persahabatan adalah hal yang paling utama. Mereka akan melakukan perjalanan jauh, dan kali ini mereka ditemani sahabat mereka yang selalu bisa diandalkan, ILY.
Sejalan dengan novel lain pada serial “BUMI”,di mana Bumi bersetting Klan Bulan, Bulan bersetting Klan Matahari, maka sudah dapat diketahui pula Matahari ini memiliki setting di Klan Bintang. Namun, bukan Tere Liye namanya jika menyuguhkan cerita yang biasa-biasa saja dan bisa ditebak jalan ceritanya. Tere Liye akan menyajikan hal-hal tak terduga untuk memberi liku dalam perjalanan kisah tiga sahabat dengan kelebihan masing-masing ini.
Sampul novel ini sangat menarik dengan desain yang mendukung isi cerita. Warna coklat dengan sebuah gambar pesawat kapsul, dua ekor ular yang terlihat ganas dengan taringnya dan  kelelawar membuat yang calon pembacanya tertarik dan penasaran seperti apa sebenarnya isi dari novel ini. Adapun tentang sampul dari novel Bumi dan Bulan juga telah mendapat sampul baru yang senada dengan Matahari pada akhir bulan Agustus lalu, sehingga semakin menarik lagi  bagi ketiganya untuk dikoleksi.
Penggunaan bahasa yang Tere Liye gunakan dalam novel ini hampir sama dengan novel-novel sebelumnya, seperti: “Hujan”, “Pulang”, “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah” dan beberapa novel lain yang menggunakan bahasa setipe. Bahasa yang digunakan tidak terlalu berat dan mudah dipahami, namun juga tak mengurangi unsur keindahan dalam pemilihan kata yang digunakan (khas pemilihan kata Tere Liye), sehingga memudahkan pula bagi pembacanya untuk membayangkan apa yang dibayangkan oleh penulis sambil tetap menikmati kalimat yang indah dan mampu menarik pembacanya untuk terus membaca tiap kalimatnya.
Kehadiran tokoh pendukung dalam novel Matahari ini juga sangat menunjang jalan cerita menjadi lebih menarik dan seru. Berbeda dengan dua novel sebelumnya, pada novel ini tidak melibatkan Av, Ilo, Miss Selena ataupun tokoh-tokoh lain yang membantu mereka di dua novel sebelumnya, hal ini dikarenakan pada perjalanan mereka kali ini tidak membawa misi apapun seperti halnya pada novel Bumi maupun Bulan. Pada novel Matahari  akan muncul karakter-karakter baru yang belum dikenal sebelumnya—karena memang pada awalnya klan Bintang ini dianggap hanya legenda tanpa tahu benar atau tidak keberadaanya. Beberapa tokoh pendukung yang berpengaruh besar dalam kisah ini misalnya: Faar sang penguasa lembah hijau yang merupakan keturunan langsung klan Bulan, Kaar sang koki terbaik yang juga merupakan keturunan klan Matahari, dan sang panglima pasukan armada klan Bintang, Marsekal Laar. Ketiga tokoh ini diberikan jatah porsi yang pas oleh penulis untuk ikut mendampingi petualangan tiga sahabat ini.
“Lihatlah, aduh lihatlah,
Ini tiga petualang melaju gagah
Mereka berasal dari klan yang berbeda
Menjelajah dunia tanpa tepian
Untuk tiba di titik paling jauh
Bumi, Bulan, Matahari dan Bintang
Ada dalam genggaman” (Halaman 184)
Bukan hanya tokoh pendukung yang mendukung petualangan Raib, Seli dan Ali saja yang tersaji dalam novel ini. Tokoh lawan juga akan muncul untuk memberikan kesan tegang di dalam cerita, dan penulis berhasil melakukannya. Tokoh lawan yang bukan orang biasa ini akan terus membuat perjalanan petualangan mereka semakin seru dan menegangkan. Setiap konflik yang disusun oleh penulis dikemas dengan begitu rapi dan membuat pembacanya gemas dan penasaran dengan kelanjutan cerita, sehingga pembaca terus melesat enggan untuk berhenti, terus mencoba untuk menebak apakah kisah petualangan mereka akan berakhir bahagia dan damai seperti halnya pada novel pertamanya, “Bumi”, atau justru berakhir dengan bercampur kesedihan seperti pada novel keduanya, “Bulan”.
Setiap tulisan yang dibuat manusia pasti memiliki kekurangan, tak terkecuali juga dengan novel ini. Salah satu yang paling sering terlihat adalah terdapat beberapa kesalahan penulisan yang ada di novel ini, misal “tpis” (seharusnya “tipis”, halaman 79), “mengatakanny a” (seharusnya “mengatakannya”, halaman 96), “hitangan” (seharusnya “hitungan”, halaman 222), “matematikmilikmu” (seharusnya “matematika milikmu”, halaman 251) dan beberapa kesalahan penulisan lain. Hal ini terjadi mungkin karena penulis dan editornya sangat bersemangat untuk menuliskan novel bergenre fantasi ini. Selain kesalahan penulisan, ada juga hal yang agak ganjil, misal bagaimana Seli dan Faar berkomunikasi saat di pesawat kecil tanpa sayap milik Faar—padahal Seli saat itu belum menggunakan ‘anting penerjemah’ dan Seli belum menguasai bahasa klan Bulan dan tidak terdapat keterangan Raib maupun Ali menerjemahkan percakapan mereka berdua. Dan lagi, masih tentang tokoh pendukungnya, pasalnya, pada cerita sebelumnya Raib, Seli dan Ali dibantu oleh pihak yang mati-matian berusaha untuk tidak mengeluarkan Si Tanpa Mahkota dari penjara bayangan di bawah banyangan, akan tetapi, pada novel ini, perjalanan mereka bertiga akan dibantu oleh tokoh yang memiliki hubungan langsung dengan pasukan yang hendak membebaskan Si Tanpa Mahkota. Hal ini sedikit banyak akan menimbulkan pertanyaan pada pembaca, tentang ketidakcocokan dengan cerita sebelumnya.
 Terlepas dari kekurangan dalam novel ini, ada banyak sekali kelebihan yang ditawarkan. Isi novel yang aman untuk hampir semua rentang usia—karena tidak mengandung unsur yang bermuatan negatif, pemilihan kata yang unik dan menarik, penggunaan bahasa yang indah namun tidak sulit dipahami, dan pesan moral yang tersimpan di dalamnya mampu menepis kesalahan tulisan dan ketidakcocokan logika yang ada di novel ini.
Seperti biasa, Tere Liye bisa menghadirkan nilai yang mendasar tentang kehidupan (yang biasa kita lupakan) melalui cerita-cerita ringan yang dihadirkan. Ada banyak sekali pesan yang tersirat dari novel Matahari ini yang cocok untuk semua usia. Misalnya saja tentang persahabatan, kesetiakawanan, pengetahuan tentang teknologi, kerja sama, berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, kesetaraan gender dan sampai pada bagaimana kita menyikapi suatu masalah. Semuanya dikemas dengan begitu menarik tanpa ada kesan menggurui.
Jika anda merupakan penggemar novel dengan genre fantasi, novel karangan penulis dalam negeri ini patut diperhitungkan. Saya acungkan jempol kepada penerbit Gramedia Pustaka Utama yang telah menerbitkan serial “BUMI” ini. Tingkat imajinasi penulis yang ditawarkan tidak mengecewakan, sanggup bersaing dengan novel fantasi terjemahan yang sudah terlebih dahulu menanjak popularitasnya. Pun jika anda menyukai novel dengan tema persahabatan dan petualangan, novel ini tidak boleh absen dari daftar bacaan anda. Sangat diajurkan untuk membaca mulai dari buku pertama secara berurutan (Bumi-Bulan-Matahari) agar dapat memahami cerita secara keseluruhan dari awal dan bisa ikut merasakan seluruh petualangan yang mengesankan dengan tiga sahabat ini.
Untuk menutup resensi novel Matahari ini, saya akan mengutip salah satu quote favorit sepanjang saya membaca novel ini, yang merupakan nasihat dari ayah Ali untuk putranya.
Hidup ini adalah petuangan, Ali. Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik” (halaman 362).


Senin, 03 Oktober 2016

Ketemu Tere Liye ; Satu dari Puluhan Bahkan Ratusan Hari Spesial Dalam Hidup yang Berhasil Terabadikan dengan tulisan (Bukan Cerpen)

"Aduh, bisakan kau pergi, Hitam? Selalu saja menunggui di belakang tubuh saat matahari tengah bersinar. Aku membencimu, sungguh, aku selalu berharap saat menutup mata kau tak ada. Hitam, aku mohon pergilah. Bergantilah dengan warna lain, hijau misalnya. Karena kau selalu mengingatkanku dengan sebuah masa lalu. Ibuku yang pergi dengan pakaia hitamnya." -Malang, 2 Oktober 2016


***

Saat itu mendung menggantung sepanjang mata melihat. Langit yang seharusnya biru berubah menjadi abu-abu. Tapi tetap saja, Matahari tetap setia pada janjinya. Tetap dengan susah payah ia memberikan cahayanya untuk memberi penghidupan pada seluruh makhluk yang ada di Bumi. Sisa hujan semalam masih sering menetes  dari daun-dau yang menampungnya semalaman, kemudian jatuh pada pagi harinya.

Hari itu hari spesial. Sungguh, jika terhitung dari aku kecil, hari itu adalah hari spesial. Hari yang mungkin akan terjadi sekali sepnajang hidup. Bukan aku berharap tak pernah bertemu lagi seperti hari itu, tapi tak ada yang bisa menggantikan pertemuan pertama, bukan?
Mungkin bagi orang lain, ini hal sepele. Tapi bukankah sebuah kebahagiaan relatif sifatnya? Tergantung pada orang yang merasakan? Maka itulah yang menjadi prinsipku untuk menuliskan ini. Semua orang memiliki kebahagiaannya masing-masing.

Aku menyukai tulisan, terhitung mungkin sejak aku kelas 4 atau 5 SD (lupa kapan tepatnya). Saat itu, saat aku tengah berusaha untuk tertidur, aku samar-samar mendengar ayahku memuji puisi yang ku buat untuk tugas sekolah, itu adalah pujian pertama tentang tulisanku, dan aku bahagia sekali, maka aku putuskan hari iti menjadi salah satu hari spesialku seumur hidup. Hari dimana aku memutuskan salah satu cita-cita besarku. Aku akan menjadi PENULIS.

Dan sejak hari itu juga aku menyukai puisi. Menyukai setiap kata yang digunakan, sederhana saja, aku hanya berpikir bahwa bisa menggunakan kata yang indah itu keren--begitu pikiranku dulu. Beranjak dewasa, aku menyukai dunia cerpen, bukan hanya puisi, dan hanya hitungan waktu pula aku mulai menyukai novel. Sangat menyukai malah. Aku terus berusaha, menulis apa yang ingin ku tulis, dan suatu saat menjadi penulis.

Namun saat itu aku belum menemukan nyawa dalam tulisanku. Masih bias dan tidak jelas mau dibawa seperti apa aku menulis. Hal mendasar. Aku belum menemukan gaya tulisan yang sesuai dengan kepribadianku. Aku terus membaca banyak cerpen dan novel, berusaha akan mendapat jawaban gaya tulisan seperti apa yang bisa membawa tulisanku, yang bisa memberi nyawa pada setiap kata yang ku gurat. Dan aku menemukannya, di penghujung masa SMA ku. Tahun terakhir aku menjejaki masa yang (katanya) indah itu.

Aku dikanalkan oleh seorang adik kelas satu kamar denganku saat di pesantren dulu. Setiap hari ia terus menerus berbicara tentang betapa mashyurnya seorang penulis yang tengah naik daun. Setiap kata bijaknya bisa dilogika dan masuk akal, karena berdasarkan pada pengalaman dan mengamati. Sungguh, saat itu aku merasa adik kelasku itu terlalu melebih-lebihkan. Mana ada penulis sehebat itu?

Tapi mulutku tersumpal beberapa hari kemudian. Dia menawariku untuk meminjam buku dari penulis yang ia elu-elukan itu. Aku menerima tawarannya, memilih kiranya judul apa yang menarik dan cocok untuk keadaan saya saat itu. Jadilah, "Ayahku (Bukan) Pembohong" menjadi pilihan. Aku membaca sinopsisnya, hmm...sepertinya menarik. Dan aku mulai membacanya.

Dan luar biasa. Mulutku benar-benar tersumpal. Adik kelasku itu tidak berlebihan. Setiap kalimatnya menghipnotisku. Gaya bahasa yang digunakan benar-benar sesuai dengan apa yang aku inginkan, Setiap kalimat yang berebeda dari kebanyakan penulis, tidak terlalu berat namun juga tidak bisa dibandingkan dengan penulis novel picisan yang sangat ringan. Sungguh, saat itu aku menemukan bagaimana tulisanku akan kubawa, bagaimana jalan ceritaku akan mengalir, bagaimana seharusnya aku meloloskan kalimat demi kalimatnya. Gaya bahasanya yang membuatku jatuh hati  pada setiap tulisannya. Tak kurang pula isi dari cerita yang begitu membongkar isi perasaan saya, memubuat saya sadar betapa 'kurang ajar'nya saya terhadap ayah saya. Isi cerita yang penuh nasihat tak menggurui. Ibu, doakan saja anakmu ini bisa seperti penulis ini kelak.

Tere Liye. Begitulah setidaknya nama penanya. Sejak saat itu, saat aku lulus dari SMA dan menjemput kehidupn baru di fase berikutnya, aku mulai memburu banyak novelnya. Mulai rajin membaca karya-karyanya, dan mulai mempelajari bagaimana penulis ini mencampurkan emosi pada setiap tulisannya. Jadilah, tanpa aku sadari aku benar-benar menyukai setiap tulisannya. Terus berharap suatu saat bisa bertemu langsung dengan beliau, mengetahui sedikit saja ilmu dari beliau dan tahu bagaimana rahasia menulis beliau.

Mungkin ini dia jawaban dari segala keinginannku. Melalui kabar yang diberikan teman sekelasku saat kuliah, sebuah kabar menyenangkan datang padaku. 2 Oktober 2016. Workshop kepenulisan yang diisi oleh Tere Liye digelar di kotaku, di kampusku. Langsung saja, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftar dengan teman kosku (meskipun agak ku paksa).

Dan jadilah hari itu hari spesial selanjutnya dari puluhan hari spesial yang pernah kualami selama hidupku. Aku bisa bertemu langsung dengan Tere Liye, penulis yang terus membuatku ingin mengikuti jejaknya. Mungkin terlihat berlebihan, namun sungguh, hari itu merupakan hari yang istimewa bagiku. Siapa pula yang tak bahagia jika bertemu dengan idolanya? Entah seperti apa idola mereka, semua orang akan bahagia jika mendapat kesempatan yang sama.

Ada lagi saat yang membahagiakan, penggalan paragraf yang menjadi saksi betapa aku bahagia. Saat beliau meminta kami (peserta workshop) membuat satu paragraf yang ada kata "Hitam" di dalamnya, paragrafku menjadi salah satu yang dibacakan langsung oeh beliau. Meskipun aku yakin sekali paragraf yang kutuliskan tidak ada spesial-spesialnya, aku sungguh senang, mendapat koreksi langsung dari penulis favorit.

Ahh... andai masih ada kesempatan, aku ingin kembali mengukir hari spesial. Bisa bertemu kembali lagi dengan beliau. Semoga, semoga. dan semoga. Semoga pula saat pertemuan selanjutnya aku bisa menyuguhkan hal yang lebih baik dari hari itu.



Malang, 3 Oktober 2016,