Alena (Bagian Tiga)

KISAH ROY

            “Apa yang harus aku lakukan?”. Alena mengucap lirih. Hampir tak terdengar. Raana, Zeo dan Den memandang gadis lima belas tahun itu.
Sejenak lengang. Masih tersisa keraguan dari suara lirih Alena.
“Kami mohon, pergilah dengan kami ke pulau putih.” Zeo dengan terus terang meminta Alena. “Dan dengan Roy” Tambah Raana.
“Bisa kau jelaskan apa hubungan Roy dengan semua ini?” Mata bulat Alena menyelidik Raana dengan penuh penasaran. Namun dengan lembut Raana menggelengkan kepala.
“Kau bisa bertanya dengannya besok, Alena. Sekarang waktumu tidur. Kita harus kembali ke dalam tubuh Den. Tapi sebelum itu, apakah kau bersedia ikut dengan kami, Alena? Demi Den, demi kami, demi tuan-tuan kami, dan demi seluruh pulau putih itu?”
“Sayangnya aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Raana. Kau tahu, ibuku tak akan mengizinkanku.” Alena menunduk.
Percakapan itu berakhir dengan kesenyapan. Raana dan Zeo kembali ke dalam tubuh Den. Dan Den meringkuk di kaki Alena, bersiap untuk tidur. Alena menarik selimutnya, merapatkannya dan berusaha memejamkan mata. Namun hingga pagi menjelang, tak semenitpun ia bisa memejamkan matanya. Sementara Den sudah tertidur pulas dengan manis layaknya kucing biasa.
***

Seperti biasa Roy menunggu Alena di depan rumah gadis itu. Di atas sepedanya ia akan bersiap menyambut Alena dengan senyum ramah dan suara yang ceria, kemudian menawarinya untuk pergi bersama (dan bersiap untuk ditolak tawarannya).
“Hai Alena. Hari ini kau mau berangkat sekolah denganku? Dengan sepeda ini kita akan cepat sampai” Roy dengan nada riang menyapa gadis yang baru saja keluar dari pagar rumahnya.
Alena terdiam sejenak. Berpikir. “Mungkin kali ini aku akan ikut denganmu, Roy. Semoga kamu tidak keberatan saat memboncengku”.
Wajah Roy kaget. Ia tak terbiasa mendapat penerimaan tawaran dari Alena.
“Tentu tidak. Aku yang setiap hari menawarimu. Aku akan senang kalau kau mau berangkat bersama denganku.”
Alena duduk di jok belakang. Berboncengan dengan Roy. Di sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Alena masih berpikir bagaimana bertanya pada Roy tentang ‘kesedihan yang sama’ seperti yang dikatakan Zeo dan Raana.
Udara sepagi itu masih sangat dingin. Alena merapatkan jaketnya.
“Bagaimana kau bisa sekuat itu, Lena?” Roy mulai membuka pembicaraan.
“Eh, apanya?”
“Aku hanya heran, kenapa kau bisa punya kekebalan tubuh sekuat itu. Udara seperti ini sangat dingin. Aku saja yang biasanya mengebut dengan sepeda agar tak terlalu lama di luar ruangan terkadang masih tak kuat dengan suhu di kota ini. Tapi kau yang seorang perempuan bisa dengan santai setiap hari berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan sebaliknya” Terang Roy membuka percakapan.
“Kau berlebihan, Roy, bukankah kita sudah di kota ini sejak kecil? Kota ini menyayangi kita, suhunya tidak akan membunuhmu meski kau kedinginan.” Alena tersenyum mendengar ucapannya sendiri.
Gedung sekolah mereka hampir terlihat. Hanya menuruni bukit dan mereka akan disambut dengan pemandangan anak-anak yang berkejaran dengan tas sekolah mereka masing-masing.
“Bagaimana kabar Den?” Roy sambil sedikit mengerem sepedanya agar laju sepedanya tak terlalu kencang karena menuruni bukit “Apa dia makan ikan yang kemarin ku berikan padanya?”.
Alena tertegun. Mungkin ini kesempatannya untuk bertanya tentang ‘kesedihan yang sama’. Tapi ia urung menanyakannya. Takut Roy terganggu.
“Baik. Ia amat menyenangkan. Kau bisa mengunjunginya jika kau mau.”
“Syukurlah jika demikian, aku belum punya kesempatan untuk bicara pada ibuku boleh atau tidak merawat Den. Mungkin nanti sepulang sekolah aku akan menanyakannya. Tidak enak juga terus menitipkan Den padamu.”
“Ah, tidak. Sama sekali bukan masalah, Roy” Lena dengan cepat menyangkal.
Roy tersenyum. Sepedanya sekarang sudah mulai memasuki area sekolah. Alena turun di depan gerbang. Mengucapkan terimakasih pada Roy.
“Aku tidak akan keberatan jika kau mau menumpang di sepedaku lagi nanti pulang. Tentu jika kau tidak keberatan.” Roy sambil menuntun sepedanya memasuki halaman sekolah tersenyum pada Alena.
Yang ditanyai hanya diam. Memandang Roy dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Apa yang kau ketahui tentang Den, Roy?” suara Alena lirih kalah dengan suaran anak-anak lain yang bergegas masuk ke kelasnya masing-masing. Namun, Roy mendengarnya.
Roy mematung. Menatap gadis di hadapannya dengan tenang. Tangannya masih memegang stang sepedanya.
“Akan kuceritakan nanti. Semoga harimu menyenangkan.” Roy berbalik arah. Menuntun sepedanya masuk ke area parkir. Begitupun dengan Alena. Ia berbalik badan dan membaur dengan siswa lain. Masuk ke dalam kelasnya.
***
“Apa Raana dan Zeo sudah menemuimu?” Roy langsung bertanya setelah beberapa saat lalu mereka keluar dari area sekolah. Alena di jok belakang mengangguk, kemudian menjawab pelan, ya.
“Ada begitu banyak hal tak terduga di dunia ini. bukan begitu, Lena?”
Sekali lagi, gadis itu mengiyakan.
“Mau mendengar cerita kecil? Tentang seorang pangeran kecil yang bahagia?” suaranya Roy terdengar lebih berat dari biasanya.
“Jika kau tak keberatan, Roy.”
“Aku tak keberatan Alena. Asal kau mau mendengarkannya.”
Roy memulai ceritanya.
“Di sebuah kota dengan penduduk yang bahagia. Sebuah keluarga kecil yang tinggal di ladang menjalani hidupnya layaknya penduduk biasa. Mereka tinggal di pinggiran kota, sehingga hiruk pikuk perkotaan tak terlalu terasa bagi mereka. Sang ayah setiap hari bergi berladang dengan penuh semangat. Pergi di saat matahari terbit dan pulang saat matahari beranjak tenggelam, kadang lebih cepat dan kadang lebih lama. Sang ibu dengan tangannya yang cekatan melakukan berbagai kegiatan rumah dengan senang dan tulus. Dan si anak bermain dan belajar dengan riang, si anak bahagia sekali dengan keluarganya.
Untuk beberapa tahun semuanya terasa sempurna. Sang anak menyukai kegiatannya ikut berladang dengan ayahnya. Sering membantu ibunya mengangkati barang di rumah. Melakukan banyak hal yang sama namun tak pernah membuatnya bosan. Lalu dalam sejenak pula keadaan segera berganti. Saat umur enam tahun mereka mau tidak mau harus pergi dari kota mereka. Rumah keluarga kecil itu terbakar. Entah apa penyebabnya. Apa yang mereka miliki sudah kandas. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Dan memutuskan untuk pindah ke kota lain. Mengubur semua kenangan di kota itu.
Dan bulan berganti tahun. Saat sang anak berusia usia sepuluh tahun sang ayah memutuskan untuk kembali mengunjungi kota lama mereka sendiri. Merasa masih penasaran dengan apa yang menyebabkan istana kecil mereka terbakar habis. Dan pergilah sang ayah, meninggalkan istri dan anaknya.” Suara Roy tercekat di sana.
“Roy, kau baik-baik saja?” Alena menangkap kesedihan dari kisah anak laki-laki di depannya.
“Aku baik saja Alena, aku sudah berjanji pada Zeo dan Raana untuk menceritakan kisah ini padamu.” Roy berhenti sejenak. Memelankan kayuhan sepedanya. “Baik, kisah akan berlanjut”
“Dan itu merupakan perjalan terakhir bagi ayah anak laki-laki itu. Sebuah tabir tersingkap. Rumah keluarga kecil itu ternyata sengaja dibakar oleh seorang petani yang iri dengan keluarga itu. Entah apa yang membuat iri, hingga saat ini sang istri dan sang anak tidak atahu penyebabnya. Bukan hanya itu, kedatangan kembali sang ayah di kota lama mereka membuat si petani yang iri hati naik pitam. Ia seperti kesurupan menggila mengejar sang ayah di perjalan pulang. Hingga kendaraan yang digunakan sang ayah terperosok ke dalam jurang. Tidak banyak yang tahu kejadian itu. Hanya beberapa orang, yang kemudian melaporkan si petani iri hati kepada pimpinan mereka. Dan kini entah bagaimana kabarnya. Si anak dan sang Ibu tidak pernah mengetahuinya.” Roy diam sejenak, “Setidaknya sampai di sanalah ceritanya” Roy tersenyum memutuskan mengakhiri kisahnya.
Untuk beberapa detik mereka saling diam.
“Dimana letak bahagianya, Roy?” Alena dengan suara lirih bertanya dengan ragu.
“Kau tahu, Lena? Letak bahagianya adalah saat mengenangnya. Saat mengenang masa bahagia, itulah saat bahagianya. Seperti yang kau keketahui, akulah si anak dalam cerita itu, dan akulah si pangeran bahagianya. Aku bahagia karena ayahku adalah seorang yang sangat menyayangi keluarganya. Aku bangga meski ayahku belum pernah mendengarnya dari mulutku sendiri. Aku bahagia karena ayah masih menitipkan ibu padaku, hingga membuatku mencurahkan segala perhatianku pada ibu. Akulah sang Pangeran yang Bahagia. Bahagia dengan mengenang kebahagiaan, yang akhirnya bisa memandang hidup dengan penuh keluasan. Dan kau tahu apa lagi yang membuatku bertahan hingga sekarang?”
Alena menggeleng.
“Karena aku bertemu denganmu. Gadis kecil yang lebih dulu kehilangan. Gadis yang begitu kuat menghadapi beratnya hidup. Bagaimana kau bisa bertahan dari udara yang dingin ini, Alena? Bagaimana kau bisa bertahan dengan segala yang tersisa untukmu? Aku tahu kau begitu menyayangi ibumu. Dan sebab itu pula aku menirumu. Aku akan menyayangi apa yang tersisa untukku.”
“Apa itu sebuah bentuk kasihan, Roy?”
“Tentu tidak” Roy menjawab singkat.
“Kau tahu, aku tidak sekuat itu. Aku bahkan tak bisa menikmati hidup seperti halnya dirimu. Aku justru takut mengenang, sedangkan kau bahagia dengan mengenang.” Suara Alena tercekat. Sepeda yang mereka tumpangi melaju pelan.
“Yang menilai diri kita adalah orang lain, dan yang tahu sejatinya diri kita adalah diri kita sendiri. Tak masalah seperti apa dirimu, karena aku orang lain bagimu, bagiku kau adalah gadis yang kuat.”

Sepeda mereka tumpangi melaju semakin cepat. Angin sore menggoyangkan daun-daun pohon dan merontokkan sebagiannya. Alena merapatkan jaketnya. Hatinya terasa hangat.

Komentar

Pos populer dari blog ini

[RESENSI NOVEL MATAHARI] Memaknai Sebuah Perjalanan; Petualang yang Baik Akan Melakukan Petualangan Terbaik

Alena (Bagian Dua)

Alena (Bagian Satu)