Alena (Bagian Dua)

SEBUAH KISAH

“Kau senang dengan kucing ini?” laki-laki yang dipanggil Zeo itu memulai percakapan.
Lena perlahan mengangguk.
“Kucing yang indah, bukan?” Raana tersenyum. Mengelus Den yang diam memandang kami bercakap.
“Kau tahu, Lena, kucing ini bukan kucing biasa.” Zeo mulai menejelaskan. “Den adalah kucing dari Pulau yang dikutuk, pulau yang harus kau selamatkan, Pulau Putih.”
Lena tak mengerti. Gadis itu perlu mencerna kalima anak laki-laki di depannya. Ia hanya menggelengkan kepala tak percaya.
“Pulau putih? Apalagi itu? Pertama seekor kucing yang dari matanya mengeluarkan cahaya, lalu muncul kalian, dan sekarang? Pulau putih?”
“Biar aku yang menjelaskan. Ini bukanlah kisah indah seperti dongeng yang selama ini sering kau dengar. Kisah ini tentang keluargaku, kehidupan Den, dan pulau putih.” Raana memilih untuk berbicara.
Lengang sejenak. Lena mengatur napasnya.
“Baik. Aku akan mendengarkannya.”
Bola mata Zeo yang kecoklatan menatap Raana, ikut menyimak apa yang akan diceriatakan kakaknya.
“Tapi sebelumnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau percaya kucing memiliki sembilan nyawa?” Raana memulai penjelasannya dengan pertanyaan.
Lena menggeleng. “Itu hanya mitos”
“Jika begitu kau akan sulit mempercayai cerita ini. Kami kemari adalah memintamu untuk ikut bersama kami. Bersama dengan Roy. Kalian berdua memiliki kunci untuk membuka tiga kotak ‘Kunci Warna’”
Lena memotong penjelasan Raana, “Roy? Dari sekian banyak anak di dunia ini, kenapa harus kami berdua?”
“Maka dengarkan cerita kami Lena. Aku mohon, dengarkan kami. Sebelum putih menjadi hitam. Dan hitam lenyap dimakan malam” Zeo yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut bicara.
Demi melihat mata Zeo yang penuh pengharapan, Lena diam dan kembali tenang.
***
Kisah ini berawal dari sebuah pulau yang tak terpetakan sama sekali hingga kini. Keberadaannya sama sekali tak diduga manusia. Sebuah pulau kecil yang dengan indahnya masih menyimpan banyak sekali makhluk tak terduga. Pasirnya putih, udaranya hangat, pohon dengan daun hijau menghasilkan ranum buah-buahan. Saat waktu tertentu akan tercium bau wangi bunga kopi yang semerbak bersama. Pulau itu pulau yang suci, tak tersentuh manusia sebelumnya. Hingga tak ada yang tahu cerita tentang siapa yang menguasai pulau itu.
Tersebutlah namanya Ratu Nes. Penjelmaan dari pulau itu sendiri. Yang menjaga pulau itu agar tak pernah terpetakan oleh pelaut-pelaut yang melewatinya dan benda-benda buatan manusia lain yang terbang di atasnya. Lalu Raja Ruj yang dengan setia mengisi bawah tanah dan permukaan tanah pulau itu dengan air segar dan tawar. Suatu ketika mereka dianugerahi tiga putra-putri dari Sang Pencipta. Mereka adalah Pangeran Tah—pangeran tertua—yang  menjaga kehangatan dan kenyamanan udara pulau itu, Pangeran Meta yang menjaga kesuburan dan menjaga isi dari pulau itu, dan Putri Ein—si Putri Bungsu—yang menjaga aroma dari pulau itu.
Masing-masing putra-putri itu memiliki hewan peliharaan. Pangeran Tah yang lembut, peduli dan menyukai kebebasan begitu menyayangi Denus, seekor burung nuri yang dengan keistimewaan paruh berwarna emas yang memantulkan cahaya indah saat terkena sinar matahari. Pangeran Meta yang tegas, adil dan kuat memiliki seekor macan tutul yang aumannya mampu memanggil seluruh penduduk pulau bernama Gord. Dan Putri Ein yang selain cantik ia juga cerdas, lemah lembut dan penuh perhitungan memiliki seekor kucing jantan tiga warna yang merupakan teman baik Gord si macan tutul, Nico, yang dibandingkan dengan hewan kesayangan kakak-kakaknya kucing ini tak memiliki sesuatu yang spesial.
Tiga bersaudara itu selalu menghuni pulau itu. Tidur sambil menatap bintang dan makan buah-buahan bersama hewan-hewan di pulau itu. Mereka sering berpesta dengan makhluk penghuni pulau, Putri Ein akan selalu menyiapkan bunga-bunga yang berwarna-warni dan semerbak, Pengeran Meta menghidangkan makanan dari hasil tanah pulau, dan Pengeran Tah akan membuat cuaca selalu cerah dan menyenangkan selama pesta berlangsung. Tapi pesta-pesta itu tak pernah dihadiri sang Raja dan Ratu—meskipun Raja dan Ratu ada di pulau itu.
Meskipun Raja dan Ratu mereka juga di pulau itu, mereka belum pernah bisa bertemu langsung. Ratu Nes dan Raja Ruj mengawasi anak-anak mereka dengan tak menampakkan diri. Hingga pada suatu malam mendung mereka untuk pertama kalinya menemui anak-anaknya yang sudah hampir beranjak dewasa.
Raja Ruj menggendong seorang pemuda dengan pakaian yang basah dan robek. Tubuhnya banyak tergores karang. Wajahnya pucat pasi. Di samping Raja Ruj seorang wanita yang berwibawa berjalan dengan anggun. Ialah Ratu Nes. Ketiga anaknya memberi hormat kepada kedua orang tuanya, begitupun dengan hewan-hewan yang ada di sekitar mereka.
“Selama ini aku tak pernah menampakkan diri pada kalian semua, tapi kali ini adalah pengecualian. Aku ingin kalian semua yang ada di pulau ini merawat pemuda ini. Pemuda ini terdampar di sisi selatan pulau. Ia masih hidup meski napasnya mulai melemah.” Sang Ratu dengan suara lantang memberitahukan maksudnya memunculkan diri.
“Khususnya kau, Ein, kami berharap banyak padamu.” Raja menambahkan sambil menatap putrinya.
“Siapa dia sebenarnya, ayah?”  Pangeran Tah mengajukan pertanyaan pertama.
“Mungkin ia adalah seorang nelayan dari pulau berpenduduk terdekat. Sepertinya kapalnya hancur saat badai kemarin malam. Dan ombak membawanya hingga terdampar di sini.” Ratu Nes menjawab.
“Lalu mengapa hanya Ein yang ayah berikan harapan lebih banyak?” Pangeran Meta bertanya dengan wajah penasaran.
Ein hanya diam tak mengerti.
“Karena kami berharap ia akan menjadi suami Ein suatu saat, yang akan ikut mejaga pulau ini kelak. Dan tolong jaga rahasia tentang siapa kalian dari pemuda ini” Sang Ratu kembali menjawab.
Suasana sejenak menjadi hening. Dan malam itu berlalu.
Singkat cerita semenjak  hari itu nelayan muda itu tinggal di pulau itu. Nama nelayan itu Tony. Tony itu jatuh cinta dengan Putri Ein dan begitupun sebaliknya. Mereka berdua akhirnya menikah dan membangun sebuah pondok kecil di pulau itu tempat mereka bedua tinggal. Tony tak pernah tahu bahwa Putri Ein adalah putri dari penjaga pulau itu. Baginya, istrinya dan saudara istrinya adalah manusia biasa yang hidup di pulau itu.
Mereka bedua hidup bahagia. Setiap harinya Tony pergi berladang dengan Pangeran Meta, mencari ikan dengan Pangeran Tah. Kedua pangeran itu bersandiwara dengan baik di depan adik iparnya. Tony juga sama sekali tak keberatan jika kakak iparnya, Tah, selalu didampingi seekor burung nuri dengan paruh emas, maupun kakak ipar lainnya, Meta, berladang ditunggui macan tutul yang dianggapnya sudah jinak.
Namun setelah sekian lama Tony merasa banyak hal janggal di pulau tempat ia tinggal. Ia tak pernah melihat kapal nelayan maupun kapal-kapal besar lainnya lewat atau paling tidak terlihat di cakrawala. Kemudian ia tak pernah bertemu dengan orang tua istrinya. Dan kucing istrinya, Nico yang seakan tak pernah tumbuh, sejak ia bertemu dengan kucing itu, sudah bertahun lamanya, namun Nico tak pernah tumbuh, ia tetap menjadi kucing jantan kecil yang memiliki tiga warna—kucing langka. Selain itu, Tony juga merasa gusar karena ia tak segera memiliki seorang anak, meskipun istri dan kakak-kakak iparnya tak pernah mempermasalahkannya.
Tony seorang yang pendiam. Ia tak pernah bertanya hal-hal yang mengganggunya pada istri dan kakak iparnya. Namun suatu siang di ladang, ia memberanikan diri untuk bertanya pada Pangeran Meta.
“Meta, apa kau pernah melihat kapal di sekitar sini?” Tanya Tony saat mereka berdua sedang istirahat duduk di bawah pohon besar yang rindang.
Meta yang sedang mengelus surai macannya tertegun. Diam mencari jawaban.
“Tidak. Aku belum pernah melihat kapal atau apapun berlayar ke sini kecuali kau yang terdampar. Ah, iya dan kapal kecilmu yang biasa kau dan Kakak  gunakan untuk mencari ikan” Meta menggelengkan kepalanya.
“Bukankah ini aneh? Aku tak terlalu ingat berapa lama aku terbawa ombak dan berpegangan pada kayu perahu seperti yang pernah kalian ceritakan padaku. Bukankah seharusnya di sekitar sini ada pulau berpenduduk lain?” Tony masih mendesak.
“Sebaiknya lakukan saja pekerjaanmu, Tony. Ein tak akan suka jika kau bertanya tentang itu.” Pangeran Meta berkata lebih tegas. Kemudian beranjak dan meninggalkan Tony sendiri.
Di sisi lain Pangeran Meta segera menghampiri Pangeran Tah. Ia menceritakan apa yang ditanyakan Tony.
“Apa kau berpikir  bahwa Tony akan meninggalkan pulau ini jika ia tahu sebenarnya, Meta?” Pangeran Tah bertanya pada adiknya.
Pangeran Meta mengangguk.
“Aku tak berpikir demikian. Ada Ein di sini. Dan Tony tidak akan meninggalkan Ein.”
“Tidak ada yang tidak mungkin, Kakak. Tony adalah manusia. Sedangkan kita? Kita tidak tahu apakah kita benar-benar manusia atau tidak.”
“Jika demikian, cegah Ein untuk mengatakan apapun tentang sebenarnya. Bagaiamanapun juga ayah dan ibu telah memerintah kita untuk menjaga dan membuat Tony tetap di pulau ini.”
Sayangnya saat itu juga Tony mendengar semua percakapan kedua kakak iparnya. Ia ketakutan, hingga tak tahu harus bertindak seperti apa. Ia segera pulang, menemui istrinya yang sedang duduk di teras pondok kecil mereka.
“Apakah kau bukan manusia? Siapa kau sebenarnya?!” Tony langsung menghajar istrinya dengan perntanyaan penuh amarah dan kepanikan.
Sementara yang diatanyai hanya diam dan mematung. Kemudian berdiri dan mecoba memeluk suaminya agar tenang. Namun belum sampai tangan istrinya menyentuh pundak Tony, tangan itu ditepis. Tony berlari menuju pantai. Mengambil perahu yang biasa ia gunakan dengan Pangeran Tah untuk mencari ikan di sekitar pantai. Ia terus mendayung dan mendayung. Sementara istrinya hanya kaku sampai menangis pun tak mampu.
Dan demikianlah, Tony tak pernah kembali. Malam harinya saat Putri Ein masih menatap laut berharap suaminya kembali, angin kencang dan hujan lebat memenuhi pulau. Badai akan terjadi di tengah laut. Petir akan menyambar dengan diiringi ombak tinggi yang siap menelan kapal. Dan Tony? Entah bagaimana. Putri Ein hanya diam dan tak mampu beranjak lagi dari bibir pantai. Tidak ada lagi aroma wangi bunga kopi dan rumpun mawar liar. Tidak ada lagi aroma khas hutan yang menenangkan. Yang ada hanya aroma hujan yang menyerbu tanah di pulau itu. Atau jika panas hanya ada aroma angin asin yang panas dan disertai amis ikan mati yang beberapa terdampar di laut.
Parahnya bukan hanya itu. Tidak ada lagi udara hangat. Pangeran Tah menyerah tak bisa menghibur adik perempuannya. Ia membiarkan udara sama seperti pulau lainnya, panas yang sangat panas, dan dingin yang menusuk saat malam. Dan Pangeran Meta hanya menunggu waktu. Tumbuhan tak terurus. Hewan menjadi mengerikan.
Ratu Nes dan Raja Ruj mengetahui hal ini. Dan untuk kedua kalinya  mereka menampakkan dirinya di depan anak-anaknya.
“Biarlah, Nak. Biarlah suamimu pergi. Kau harus terus menebar wangi untuk pulau ini.” Sang Ratu mendekap anak perempuannya.
Namun Putri Ein tak bergeming.
Raja dan Ratu terus membujuk anak-anaknya, namun tak ada yang mau mendengar mereka berdua.
“Mengapa ibu tak menghalangi Tony saat ia pergi? Bukankah ibu tahu semua ini?” Akhirnya Pangeran Tah bertanya.
“Kehendak hati manusia adalah milik manusia itu sendiri, Tah. Dan yang menentukan adalah Yang Menciptakan. Ibu tidak akan bisa mencegah apa yang ia inginkan kecuali ia sendiri yang ingin kembali.”
“Maka mengapa ayah dan ibu menyelamatkannya dulu?”
“Karena Tony adalah manusia dengan hati yang terluka. Ia pergi berlayar sendiri untuk menenangkan hatinya, dan ia terjebak dalam badai sendirian. Hingga kapalnya rusak dan ia terdampar.”
“Lalu mengapa ayah tidak menjelaskannya dari dulu? Lihatlah, Ein sekarang bahkan tak bisa mengalihkan pandangan dari lautan. Bukan hanya Tony yang hatinya luka karena entah mengapa, tapi sekarang Ein juga, dan sayangnya luka Ein adalah luka kakak-kakaknya!” Pangeran Meta menggebu menyalahkan ayahnya.
Untuk sejenak, hanya suara isak tangis yang terdengar.
“Jika demikian maka biarlah ayah dan ibu yang mencari Tony. Setidaknya agar ada kabar kehidupan atau kematian Tony” Sang Ratu berdiri. Menatap dan menantang lautan luas. Raja dan Ratu pergi menuju laut. Tenggelam dalam ombak.
Dan mulai saat itu Pangeran Tah dan Pangeran Meta memimpin pulau itu. Namun tak lama kemudian malapetaka besar siap merubah pulau mereka. Di belahan bumi yang jauh, seorang penguasa pulau gaib bernama Gendes siap untuk melenyapkan pulau yang telah lama membuatnya iri. Kabar menghilangnya Raja dan Ratu, serta patah hatinya sang Putri sudah sampai padanya. Dan tinggal hitungan hari Gendes datang mengutuk pulau itu.
Akhirnya hari itupun tiba. Gendes menuju pulau itu. Mengutuk ketiga putra-putri Raja dan Ratu pulau itu. Memasukkan jiwa mereka dalam tiga batu warna utama. Dan menyimpan mereka bertiga dalam tiga kotak berbeda. Putri Ein dikurung dalam warna merah,  Pangeran Tah dikurung dalam warna Biru, dan Pangeran Meta dikurung dalam warna hijau. Seluruh pulau ditutupi salju. Putih tanpa ada cela. Kekuatan ketiga anak Raja dan Ratu yang melindungi pulau itu tertutup salju tebal. Hingga pulau itu berwarna putih, menutup segalanya. Hewan yang bisa terbang pergi berpidah tempat. Sementara hewan yang hidup di darat membeku. Dan dalam sekejap pulau itu seperti kota mati.
Namun di sisi lain keajaiban terjadi. Nico, kucing Putri Ein, menukarkan dua dari sembilan nyawanya untuk menolong hewan kesayangan saudara majikannya. Gord si Macan Tutul dan Denus si Burung Nuri. Dan secara ajaib juga Gord berubah menjadi manusia, begitupun dengan Denus. Gord menjadi seorang remaja laki-laki tampan dengan suara lantang, sorot matanya tajam menatap lawan bicaranya. Sementara Denus berubah menjadi seorang perempuan cantik, pakaiannya indah berwarna-warni dan ia memegang sebuah tongkat dengan bagian atas berwarna emas. Sementara Nico tak berubah. Ia tetap menjadi kucing kecil.
“Hei, aku tak pernah tahu kalau kau seorang perempuan, Denus” Anak laki-laki itu tersenyum senang dengan wujudnya yang sekarang.
“Bukan urusanmu, Gord, lagi pula kita dalam masalah besar. Tuan kita terperangkap dalam batu dan dimasukkan dalam kotak warna. Bagaimana cara membebaskan mereka?”
“Entahlah.”
Selama bertahun mereka tak memiliki satupun ide untuk membebaskan tuan mereka. Hingga suatu hari Raja dan Ratu kembali. Raja dan Ratu kaget dengan apa yang terjadi pada pulau mereka. Mereka bertemu dengan Gord, Denus dan Nico. Dan saling menjelaskan keadaan.
Tony telah meninggal saat berlayar. Ia sempat selamat dan bermukim selama beberapa minggu tinggal di kampung nelayan pulau seberang. Karena kegundahan  hatinya, Tony memutuskan kembali berlayar, ia berniat kembali ke pulau ini. Namun naas, saat malam itu juga badai luar biasa dasyat menghadangnya. Ia kembali terombang ambing namun untuk saat ini ia sudah tak memiliki napas. Ia ditemukan nelayan dari sebuah pulau, dan dikuburkan dengan layak di sana.
Kemudian Gord dan Denus menjelaskan situasinya saat ini. Raja dan Ratu sangat terpukul, hingga mereka memutuskan untuk membalas perlakuan Gendes. Sebelum mereka berdua pergi, mereka memberikan nama kepada Gord dan Denus sebagai manusia. Gord diberikan nama Zeo, dan Denus diberikan nama Raana. Raja dan Ratu memberitahu bagaimana mereka bertiga bisa membebaskan ketiga anaknya. Dan sejak itulah, Zeo, Raana dan Nico pergi meninggalkan pulau itu. Membawa perahu kayu kecil yang mereka buat dengan sederhana. Menutupi pulau mereka dengan kekuatan yang mereka miliki. Berpindah dari satu pulau ke pulau lain, dari satu daratan menuju daratan lain. Bersembunyi dalam tubuh Nico.
***
“Dan untuk sementara kisah itu berakhir di sana. Kami sangat berharap padamu, Alena.” Raana menutup kisahnya.
Alena diam dan dengan ragu bertanya “Mengapa harus aku dan Roy?”
“Karena kau dan Roy sama” Zeo kali ini yang menjawab.
“Apa? Aku dan Roy sama sekali berbeda. Dia merupakan anak yang baik dan selalu ceria. Berkebalikan sekali denganku!”
“Itulah dirimu Lena. Kau bahkan tak pernah tahu bahwa sebenarnya Roy telah kehilangan ayahnya. Kau terlalu menutup dirimu, hingga kau tak tahu seperti apa kehidupan Roy.” Zeo menjelaskan sekali lagi.
Wajah Alena pias. Ia sama sekali tak tahu akan hal itu. Ia kembali diam dan berpikir.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Komentar

  1. Apa yang harus kulakukan hana πŸ˜’πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Plis sis, mungkin cerita cintamu lebih menyakitkan dibanding ceritanya Wak kaji Zeo πŸ˜‚

      Hapus
    2. Wak kaji show ndek jtv iku a han πŸ˜…

      Hapus

Poskan Komentar

Pos populer dari blog ini

[RESENSI NOVEL MATAHARI] Memaknai Sebuah Perjalanan; Petualang yang Baik Akan Melakukan Petualangan Terbaik